Suara ketikan keyboard dan mouse beradu, menyibukkan isi kepala yang sedang penuh oleh penatnya beban kerja sore itu. Mataku terpaku pada layar monitor jadul dari kantor pemerintahan yang belum melakukan revitalisasi pada kebanyakan asetnya.
Bersamaan dengan itu, ponsel pintarku bergetar, menampilkan pesan dari salah seorang senior organisasi di kampus dulu, setelah aku buka, ternyata berisikan undangan pernikahannya. Aku lalu mengucapkan selamat terlebih dahulu, sembari agak tersenyum sendiri karena mengingat kembali banyak dari tingkah lakunya yang sedikit unik era itu, syukurnya ada perempuan yang mau menerima pinangannya.
Setelah itu, aku mulai berpikir, siapa saja teman organisasiku yang diberi undangan juga ya? Sejenak berpikir, entah kenapa, hanya satu nama yang muncul di pikiranku sore itu, seorang teman perempuan bernama Sabtu. Aku agak kurang pede sebenarnya, karena terakhir aku berkomunikasi dengannya kira-kira sudah 7 atau 8 tahun yang lalu. Aku tidak tahu apa dia sudah bersuami, tunangan, punya pacar, atau malah sudah janda. Entahlah, namanya juga prasangka. Tanpa pikir panjang, aku yang baru saja putus dari seorang perempuan yang sudah ku seriusi sejak 7 tahun yang lalu akhirnya memberanikan diri untuk mengirim direct message di instagram.
"Sabtu, maaf mengganggu. Kamu diundang ke nikahan Mas Tanto?"
Tak kunjung ada balasan, wajar saja batinku, mungkin ia juga sudah lupa siapa aku saking lamanya kita tidak bertemu. Dua jam setelah itu, mataku kembali terfokus pada layar monitor tua ini, sebelum notifikasi muncul dari telepon pintarku.
"Iya, Ra. Tapi kayanya aku gabisa dateng di tanggal segitu, kakakku menikah di hari itu juga." Balasnya.
Dahiku sedikit mengkerut, aku jawab lagi.
"Ohh, ya sudah kalau begitu. Cuma mau nyari temen sebenernya."
"Iya, maaf ya. Oh iya, segera menyusul ya, Ra." Tulisnya.
"Sepertinya tidak dalam waktu dekat." Balasku.
"Memang kenapa? Habis putus?" Cecarnya.
"Kenapa tebakanmu sangat akurat?" Tanyaku kaget.
"Eh beneran, kapan? Akhir tahun kemarin?"
Saat itu aku mulai percaya bahwa intel bisa berwujud seorang wanita cantik.
"Kenapa bisa tahu? Mencurigakan."
Di luar dugaan ia membalas dengan balasan yang tidak disangka.
"Karena aku juga sama. Tahun kemarin sepertinya agak menyedihkan, ya?"
Melihat arah pembicaraan sedang menuju ke aura yang negatif, aku lalu berinisiatif untuk sedikit mengurainya.
"Ternyata kita adalah dua orang yang sedang berduka, dan dipertemukan kembali oleh undangan pernikahan seorang senior kampus yang padahal sudah lama tidak berinteraksi juga. Hidup ini lucu ya?" Jawabku.
"Iya juga ya, eh tapi tau nggak, ada yang bilang kita tidak pernah tau isi hati seseorang kalau kita belum duduk ngobrol dengan seseorang tersebut, yang ternyata memiliki luka dan perlahan menjelma menjadi trauma."
Seorang striker sepak bola sepertinya mencium adanya peluang untuk mencetak gol.
"Emm, berarti harus duduk ngobrol kapan-kapan, Sabtu?" Peluang itu ku ambil.
"Ga harus, sih." balasnya.
Ah ternyata masih ada penjaga gawang yang memuntahkan gol yang hampir terjadi, tapi setelah itu terjadilah sedikit kemelut di kotak pinalti.
"Oh, begitu. Tapi kalau aku mau berkunjung, kamu berkenan?"
"Tentu saja, mampir kalau kamu sedang di kotaku." Katanya.
"Akhir pekan ini ada acara?"
"Tidak."
"Aku berkunjung, ya?"
"Aku tunggu."
Dan gol pun tercipta. 1-0.
Banjarnegara, 22 Februari 2026.

No comments:
Post a Comment