Sepertinya sudah puluhan kali aku mengantarmu ke lorong keberangkatan di stasiun itu, pun sebaliknya, kau pun juga begitu jika aku sedang singgah ke kotamu. Rasanya selalu sama, seperti separuh roh yang ada di jasadku hilang terbawa deru lenguhan kereta itu. Tak apa, akan ada waktu bertemu lagi. Ucapku dalam hati untuk membohongi hatiku sendiri, sungguh ironi.
