Satu yang menyebalkan adalah kita tidak pernah tau luka macam apa yang akan kita terima, sekarang, besok atau suatu hari nanti. Kita tidak bisa memilih, kapan atau luka macam apa yang akan kita dapatkan. Ia datang tanpa diundang, dalam berbagai macam bentuk. Tumpul atau tajam, di saat kita sedang kuat-kuatnya atau rapuh-rapuhnya.
Terkadang satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah bertahan. Aku tau ia akan sembuh dengan sendirinya, masalahnya sekuat apa manusia bisa menahan semua luka itu dalam waktu yang bersamaan.
Ada yang memilih lari untuk melupakan, ada pula yang memilih untuk berlarut dalam kesedihan. Membuat diri terbiasa hingga luka tersebut sudah tidak berarti apa-apa. Ia dulu sebesar batu yang didorong Sisifus saat sedang dihukum oleh Zeus. Namun setelah berjalan pelan, batu tersebut hanya sebesar kerikil yang kau tengok sesekali saat sudah berhasil jauh kau tinggalkan.
Di sisi lain, bertahan menurutku adalah hal tersukar yang dapat dilakukan manusia, karena kita tidak tau kapan beban ini boleh dilepaskan. Walaupun ternyata, terkadang melepaskan adalah jalan yang dibutuhkan. Terpaksa melepaskan, karena merasa sudah cukup saja. Mungkin berat, namun jika kita sudah menemukan alasan yang kuat, ternyata tidak seberat itu. Malah lega yang dirasa.
Yah, ternyata sampai di sini saja. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Sudah ya, ternyata memang aku tidak pandai membuat rencana, selanjutnya, mau mencoba menikmati arus dulu sepertinya. Mengalir tanpa tau mau ke mana dan bersama siapa, yang pasti di akhir nanti, aku hanya ingin arusku menemukan hilir yang menenangkan, berakhir di sana tanpa gangguan apa-apa.
Kutoarjo, 28 Desember 2025.

No comments:
Post a Comment