Akhir pekan yang ditunggu tiba juga, setelah sholat subuh, aku berangkat menuju Jogja. Oh iya, setelah banyak pertimbangan, akhirnya kami memilih Jogja sebagai tempat pertemuan kami, setelah mungkin 7 tahun kami tidak pernah bertatap muka.
Aku mengendarai sepeda motorku untuk menembus dinginnya udara pagi pegunungan. Kira-kira butuh dua setengah sampai tiga jam untuk aku bisa tiba di Jogja. Singkat cerita, aku sampai di Jogja saat matahari sudah mulai terik. Tujuanku langsung stasiun, karena Sabtu harus naik kereta terlebih dahulu dari kotanya, jadi aku menjemputnya di sana. Lagu Iwan Fals berjudul Kereta Tiba Pukul Berapa tiba tiba terputar di kepala.
Datang kabar darimu, dua hari yang lalu, tunggu aku. Di stasiun kereta itu pukul satu.
Sabtu sampai lebih dulu, ia menunggu di lobby sampai aku datang. Canggung. Rasa yang muncul pertama kali saat melihatnya berjalan menuju aku yang sedang duduk di atas sepeda motorku.
"Maaf ya, jalan biasa ditutup tadi, jadi harus muter dulu." Ucapku karena terlambat beberapa menit.
"Iya, aku juga tadi beli minum dulu, kok." Balasnya.
"Sekarang mau ke mana?" Tanyaku.
"Ada tempat lucu di daerah Pandega, kita ke sana ya?" Jawabnya.
"Oke, kamu tahu arahnya?" Tanyaku lagi.
"Tidak." Jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Ya sudah, google maps saja, ya? Bisa baca maps kan?"
"Kamu percaya aku engga?"
"Agak ragu, sih."
"Yah, sama lagi."
"Hahaha, ya sudah. Naik dulu saja."
"Oke, aku naik ya."
Singkat cerita kami sampai di tempat yang diinginkan Sabtu. Sebuah kafe klasik yang terletak di sudut Jalan Pandega. Kami berbincang cukup lama. Kembali membuka diri ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan. Atau mungkin karena orangnya juga ya, entahlah.
Aku memesan kopi V60 kala itu, Sabtu memesan olahan jeruk yang aku lupa nama menunya. Kami berbincang tentang banyak topik, yang di luar dugaan bisa ditelan satu sama lain, permulaan yang menyenangkan, batinku. Setelah cukup lama berbincang, kami memutuskan untuk berpindah tempat, dan sate klathak adalah pilihan kami selanjutnya.
Kami membelah Kota Jogja, dengan Bantul sebagai tempat tujuan. Untung agak mendung saat itu, jadi teriknya Jogja tidak terlalu terasa untuk kami yang naik sepeda motor ini. Sampailah di Sate Klathak Mak Adi. Aku bilang kepada Sabtu untuk mencoba kronyos saat itu, ia agak kebingungan, menu apa itu? Tapi setelah lemak-lemak itu sampai di mulutnya, tidak ada kata lain yang keluar selain "enaaak".
Hari hampir petang, kita memutuskan untuk kembali ke Kota. Karena bingung mau ke mana, kami memilih toko buku yang ada di tengah kota Jogja. Melihat-lihat sebentar dan sepertinya belum ada yang menarik, kami kemudian mencari kafe lagi di dekat-dekat toko buku tersebut sembari menunggu waktu magrib.
Secangkir Cappuccino dan Red Velvet hangat terhidang, sambil bengong melihat lalu lintas Kota Jogja di sore hari yang padat, obrolan kami pun nampaknya semakin hangat. Setelah sholat magrib, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang, tiba-tiba Sabtu berkata,
"Makasih ya, Ra. Sudah mau menemani satu hari ini."
Sudah segini saja? Batinku. Entah kenapa aku ingin lebih lama lagi bersamanya, namun karena mungkin ia juga sudah bosan, aku mengiyakan. Walaupun menurutku masih ada yang mengganjal, jadi sebelum pulang, aku balik bertanya.
"Iya, sama-sama, Sabtu. Tapi sebelum itu, aku mau tanya. Maaf ya, tapi setelah ini bolehkah aku menemanimu lagi, dan mungkin seterusnya?" Kata-kata itu mengalir begitu saja.
Aku melihatnya agak kaget mendengar apa yang baru saja aku ucapkan. Jangankan dia, aku pun agak tidak percaya perihal apa yang baru saja aku katakan. Namun sebelum jadi bola liar, aku buru-buru menimpalinya.
"Eh, maksudku begini. Semenjak kita lumayan sering berkabar, aku takut cuma aku yang merasakannya, rasa aneh yang sulit didefinisikan ini. Dari sudut pandangku, rasanya menyenangkan, dan aku gamau rasa ini hilang. Makanya sebelum terlalu jauh, aku cuma mau memastikan." Sahutku.
Hening sebentar, lalu Sabtu angkat bicara.
"Engga kok, bukan kamu saja yang merasakannya, Ra."
Jawabannya melegakan hati. Namun kembali aku memastikan.
"Jadi? Gapapa? Lanjut?" Tanyaku memastikan.
"Iya, ayo." Pungkasnya.
Sore itu di Jogja, ruang kosong itu rasanya kembali terisi. Kini, giliran lagu milik Dongker ft. Jason Ranti yang tiba-tiba terputar di kepala.
Untungnya ku bertemu denganmu, di sela sempit hidup ini.
Banjarnegara, 1 Maret 2026

No comments:
Post a Comment