Akhir pekan yang ditunggu tiba juga, setelah sholat subuh, aku berangkat menuju Jogja. Oh iya, setelah banyak pertimbangan, akhirnya kami memilih Jogja sebagai tempat pertemuan kami, setelah mungkin 7 tahun kami tidak pernah bertatap muka.
Buah dari lamunan yang disalurkan lewat tulisan
Akhir pekan yang ditunggu tiba juga, setelah sholat subuh, aku berangkat menuju Jogja. Oh iya, setelah banyak pertimbangan, akhirnya kami memilih Jogja sebagai tempat pertemuan kami, setelah mungkin 7 tahun kami tidak pernah bertatap muka.
Suara ketikan keyboard dan mouse beradu, menyibukkan isi kepala yang sedang penuh oleh penatnya beban kerja sore itu. Mataku terpaku pada layar monitor jadul dari kantor pemerintahan yang belum melakukan revitalisasi pada kebanyakan asetnya.
Satu yang menyebalkan adalah kita tidak pernah tau luka macam apa yang akan kita terima, sekarang, besok atau suatu hari nanti. Kita tidak bisa memilih, kapan atau luka macam apa yang akan kita dapatkan. Ia datang tanpa diundang, dalam berbagai macam bentuk. Tumpul atau tajam, di saat kita sedang kuat-kuatnya atau rapuh-rapuhnya.
Yang abadi hanya perubahan, ucap Kepala Kantor waktu itu. Benar juga, batinku. Senyaman-nyamannya manusia hari ini, kelak akan merasakan ketidaknyamanannya, cepat atau lambat. Ditinggal sementara atau selamanya. Ah sedih juga, sepertinya lebih menyenangkan membahas sisi baiknya saja.
Aku melihat bayangmu sore tadi, di kerumunan manusia yang sedang mengantre lampu merah, di kaca spion sepeda motor yang sudah kupakai sejak masa kuliah, di riuhnya lalu lintas pada jam pulang kerja. Namun tampaknya aku salah, tidak ada kamu di sepanjang perjalanan aku pulang kerja tadi sore.
Leles, nama stasiun yang mungkin akan selalu terpatri di ingatan sebagai salah satu stasiun bersejarah, khususnya untukku pribadi.