Akhir-akhir ini aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri tiap kali orang-orang terdekatku kecewa, berubah sikap, menangis, atau hal-hal berbau negatif lainnya, dan aku tak bisa hadir untuk sekadar memeluknya. Jika sudah begitu, beribu pertanyaan biasanya muncul di kepala begitu saja tanpa aba-aba. Manusia gagal. Cap yang kuberikan pada diriku sendiri.
Sudut Pandang
Mungkin di antara jutaan atau milyaran manusia di muka bumi ini, penulis cukup diberkati dalam hal begitu murahnya cara mereka untuk menumpahkan emosi. Tinggal duduk, melamun, lalu menulis. Cukup hemat dibandingkan orang-orang yang menumpahkan emosinya dengan cara menyewa satu ruangan untuk memukul atau memecahkan benda-benda yang memang disediakan untuk dihancurkan. Atau mereka yang melarikan pikiran mereka ke hal-hal yang berbau obat-obatan. Walaupun di lain sisi, menjadi penulis juga rentan mendapat stigma,
"Kamu pengen jadi penulis? Mau dikasih makan apa anak istrimu nanti?"
Tunggulah Aku
Hari ini, saya ingin sedikit bercerita tentang konser salah satu grup band yang menurut saya menjadi anomali, khususnya di skena musik Indonesia. Grup band itu adalah Sheila On 7.
Lega
Pernahkah dirimu merasa tidak ada tempat untuk membagi kebahagiaan yang sedang ingin sekali kamu curahkan? Seperti membawa sekotak cokelat pada orang yang tidak menggilai cokelat sepertimu. Energi besar yang kamu keluarkan untuk menggambarkan perasaanmu saat itu sirna karena tidak ada yang menyambutnya dengan antusiasme yang sama.
Kereta Api
Dari dulu, aku memiliki obsesi tersendiri terhadap kereta api. Salah satu mode transportasi yang menurutku paling nyaman untuk dinaiki.
Stasiun Terakhir
Karis tengah duduk di depan laptopnya, di sebuah kafe yang terletak di pinggir kota tempat ia tinggal, berteman es kopi susu gula aren yang baru saja datang diantar pelayan. Bersama dengan es kopi tersebut, pelayan tadi juga membawa asbak kosong berwarna hitam, lalu meletakkannya di samping laptop yang di bagian belakang layarnya penuh dengan tempelan stiker band lokal.
Petak Umpet
Jangan sengaja lari agar dicari, sungguh itu menyesakkan. Dulu waktu kecil, kita mungkin sering sekali main petak umpet ya, tapi mengapa sekarang tidak? Ya simple-nya mungkin karena hadirnya gadget. Berarti gadget buruk dong? Tidak sepenuhnya, mungkin kita bisa bahas itu di lain waktu. Kali ini, aku ingin coba menelaah permainan tradisional bernama petak umpet terlebih dahulu.
Singgah
Sepertinya sudah puluhan kali aku mengantarmu ke lorong keberangkatan di stasiun itu, pun sebaliknya, kau pun juga begitu jika aku sedang singgah ke kotamu. Rasanya selalu sama, seperti separuh roh yang ada di jasadku hilang terbawa deru lenguhan kereta itu. Tak apa, akan ada waktu bertemu lagi. Ucapku dalam hati untuk membohongi hatiku sendiri, sungguh ironi.







