Menunggu Sabtu

Saat itu hari Rabu, hari yang ditunggu setelah hari Senin kemarin baru saja lingkungan saya mendapat kabar bahwa ada salah satu tetangga yang dinyatakan positif terjangkit virus Covid-19. Padahal, hari Jumat sebelumnya, tetangga saya tersebut ikut kegiatan masak-memasak sebagai salah satu budaya untuk menyambut Hari Raya Idul Adha.

Panik. Itu hal pertama yang terbesit di otak, apalagi saat itu para Ibu-Ibu berbaur menjadi satu saat sedang melakukan kegiatan masak-memasak, tak terkecuali Ibu saya sendiri. Alhasil mulai saat itu, Ibu, Ayah, dan adik saya diisolasi di rumah. Begitu pula dengan seluruh Ibu-Ibu yang juga ikut memasak pada hari Jumat kemarin, mereka juga diisolasi di rumah mereka masing-masing.

Setiap hari mereka diantar makanan yang digantungkan di gagang pintu rumah, lalu ditinggal untuk selanjutnya diambil dan dikonsumsi setelahnya. Sudah seperti tahanan memang, tapi demi memutus rantai penyebaran virus ini, memang harus ada yang dikorbankan.

Untungnya, tak ada intimidasi dari tetangga sekitar. Walaupun terkesan seperti dikucilkan, namun dari belakang, para tetangga, kerabat, dan kolega senantiasa memberi dukungan moril seperti chat, telepon, maupun video call. Makanan pun disediakan oleh lingkungan sekitar yang telah membentuk badan penanganan Covid-19 secara mandiri yang diberi nama "Jogo Tonggo" yang berarti jaga tetangga.

Saat ini, saya sendiri berada di Kota terpisah dengan keluarga saya, dan satu-satunya alat yang bisa membuat saya terhubung adalah handphone. Hari Rabu kemarin, Ibu saya dan rombongan Ibu-Ibu yang ikut masak kemarin diuji swab-test. Hasil dari pengujian swab tersebut baru akan terbit hari Sabtu.

Hari ini adalah hari Jumat pukul 23:45, lima belas menit sebelum menuju hari Sabtu. Saya sendiri juga ikut merasakan kecemasan yang sama, walaupun lebih baik mengetahui sejak dini jika ada virus, namun sepertinya akan lebih baik jika Ibu saya dinyatakan sehat wal-afiat.

Jam dua belas sudah lewat, pertanda hari Sabtu telah datang. Pukul 00:20 tiba-tiba ada chat masuk, dari Ibu, yang menjelaskan bahwa hasil dari swab-test adalah negatif. Semua pikiran jelek saya runtuh detik itu juga, syukurlah.

Untuk teman-teman semua, virus ini nyata di sekitar kita, ia tak tampak oleh mata, kita hanya bisa membantu memutus rantai penyebaran dengan cara mengikuti protokol kesehatan yang ada. Pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan jaga kebersihan.

Jangan merasa bosan dulu, karena jika kita acuh, pandemi ini akan semakin lama berakhir. Tetaplah pakai masker walau mengurangi kenyamanan saat kita mengambil nafas, tetap jaga kebersihan walau rasa malas selalu menghinggapi.

Akhir kata, semoga kita senantiasa dilindungi dari bahaya yang mengintai diri. Sehat selalu, Teman-teman.

Semarang, 8 Agustus 2020

No comments:

Post a Comment