Di satu kesempatan ini, aku ingin sedikit bergumam perihal takdir. Terkadang ia bisa muncul dalam bentuk terindah, terkadang pula ia dapat menghujam diri sampai tersungkur ke tanah. Di satu sisi, mensyukuri, namun di sisi lain ingin sekali mencibiri.
Sebagai manusia, biasanya yang paling tertancap ke dalam ingatan kita ialah takdir pahit. Bagai tinggal selangkah lagi bisa mencicipi es krim di siang yang terik, tapi lalu tersadar bahwa itu cuma mimpi. Kamu bangun dari tidur dengan lidah menjulur seolah ada es krim di tangan, padahal yang tersisa hanya hampa dan perasaan bahwa kamu adalah orang paling hina sedunia.
Kau pernah merasakan mempunyai hari yang buruk dan berharap pada ujung hari itu menemukan orang untuk bisa ditumpahi rasa yang sudah memenuhi secangkir pikiran, namun apa yang kau harap itu tidak terealisasikan? Entah karena takdirnya sudah demikian, atau alasan apapun yang bisa membuatmu berpikir "terkadang hidup itu anjing, ya?"
Itu yang aku maksud di awal, takdir atau apalah itu, berhasil membuat seluruh hal-hal baik dalam hidupmu menjadi sekecil bunga trotoar, yang indahnya tertutup debu jalanan. Kau beranggapan bahwa dirimu harus menjadi orang paling menyedihkan saat itu, dan tidak ada orang lain yang boleh melakukannya selain dirimu.
Kau mengumpat dalam hati, karena tak ada siapapun di sekelilingmu yang siap menghadapi kemasygulan dirimu. Kau lalu menyalakan pemutar lagu secara acak, dan yang terputar adalah lagu milik Bob Dylan "Knockin' On Heavens Door". Tidak, aku belum mau mati, gumammu. Lalu kau matikan lagi pemutar lagu jahanam itu.
Apa yang harus aku lakukan? Gumammu lagi. Pikiranmu berputar seperti kemudi bahtera yang sedang dihantam badai. Kau hanya diam di kasur busa kamarmu, singgasana paling nyaman di satu-satunya ruangan yang kau miliki. Hingga tiba-tiba ada satu kalimat yang muncul, kalimat itu berbunyi "Jika kau tak sanggup menghadapi, ada baiknya lebih dulu introspeksi".
Entah dari mana kalimat itu muncul, namun setelah menilik ulang apa yang terjadi seharian, apa iya semua hal buruk yang menimpa diri adalah salah mereka yang di luar sana? yang telah menanam suasana muram pada harimu saat ini?
Jika ternyata hal-hal buruk tersebut diciptakan oleh dirimu sendiri, lantas jangan mengumpat untuk orang lain, fokus perbaiki diri sendiri saja, kata-kata atau perilaku yang menyakitkan biarlah lewat, seperti kawanan burung yang tiap sore terbang di atas langit rumahmu.
Namun apa yang harus dilakukan apabila memang orang lain atau takdir yang membuat suasana harimu menjadi demikian? Entahlah, setidaknya hari ini kamu mencoba introspeksi diri, hasilnya? Kita tengok lain hari.
Wonogiri, 26 Agustus 2020

No comments:
Post a Comment