Roda besi itu melaju menggilas rel yang menjadi lintasannya untuk mencapai tuju. Di atasnya, tampak seorang lelaki yang sedang duduk bertafakur. Ia sedang berpikir, mengapa akhir-akhir ini ia terkesan terlalu riang menghadapi segala yang ada, tak peduli peristiwa senang atau sukar yang menghinggapinya, ia merasa tak pernah se-enteng ini menyikapi sesuatu. Ia baru ingat, beberapa waktu yang lalu, ia sempat mendengar istilah practical stoic, dan dari situ ia tertarik untuk mengulik lebih dalam tentang apa yang disebut dengan stoikisme.
Stoikisme merupakan aliran dari ilmu filsafat yang mengarah pada ketenangan hidup, kecukupan hidup, kedamaian hati dan pikir. Tidak takut akan kemiskinan, kesengsaraan, dan kematian. Istilah jawa yang paling dekat dengan inti dari stoikisme adalah "Nerimo ing pandum".
Pada era modern, atau mungkin sudah ada dari era-era sebelumnya, orang cenderung ingin membuktikan bahwa ia harus bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Di satu sisi, hal itu baik sebagai sarana berkompetisi secara positif. Namun di sisi lain, memaksakan apa yang tidak kamu suka hanya akan melemparmu ke pemikiran yang serba gelisah. Mengapa? Karena saat orang lain bisa, sedangkan kamu tidak, kamu merasa harus terus mengikutinya, tak peduli apa kamu memang benar-benar suka, atau hanya mengikuti arus yang ada.
Saat orang lain bisa melakukan sesuatu sedangkan kamu tidak, bukan berarti kamu merupakan seseorang yang gagal. Saat orang lain berhasil lebih cepat mencapai mimpinya, bukan berarti kamu akan gagal mencapai apa yang kamu impikan pula.
Setiap orang mempunyai porsinya sendiri, yang konon sudah diatur sebelum manusia tercipta di bumi ini. Mengikuti orang lain hanya akan membuat kegelisahan baru, yang akan selalu berputar di pikiranmu sebagai bunga bangkai yang akan mengganggu tiap kamu ingin memejamkan mata, overthinking istilah masa kininya.
Daripada harus mengikuti orang lain, lebih baik maksimalkan apa yang sekiranya menjadi kelebihan dari dirimu. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kamu bisa memetik jeri payah dari apa yang kamu suka?
Jadi intinya, jangan jadikan orang lain sebagai patokan, semua mempunyai porsinya masing-masing, dan tidak harus diseragamkan. Butuh setidaknya sedikit diferensiasi agar hidup menjadi lebih berwarna. Bukankah pelangi yang indah tercipta dari perpaduan warna yang tidak sama?
Wonogiri, 21 Juli 2020

No comments:
Post a Comment