Biang Lara



Malam ini aku pulang dari kantor sedikit terlalu malam, menyalakan motor lalu menggebernya menembus lalu lintas kota yang sudah cukup sepi. Di tengah perjalanan, ternyata perut berdendang ingin diisi makanan. Akhirnya sebelum pulang, aku mampir ke burjo langganan.

"Buk, maem sini satu yaa. Biasa."

"Oh iya, Mas. Tumben sendiri?"

"Iya, Buk. Balik kemaleman, hehe."

Sepiring nasi opor tersaji, meluruhkan dendang dari perut yang dari tadi keroncongan. Setelah sudah, aku membayar dan langsung pulang menuju tempat kos. Memutar kunci dan membuka pintu. Menanggalkan baju yang seharian dipakai lalu sejenak merebah dan melamun sembari melihat langit-langit yang hanya ada eternit putih kosong dan sebuah lampu LED 10 Watt. Membayangkan bahwa ternyata aku sudah sampai di titik ini. Titik yang dulu cuma bisa kuimpikan. Hidup sendiri, punya penghasilan sendiri, dan sudah tidak bergantung pada orang lain.

Belum lama, aku kembali menonton film Surat dari Praha karya Angga Dwimas Sasongko. Salah satu film yang sangat aku suka dari segi cerita, musik, dan visualnya. Aku membayangkan diriku sedang seperti Pak Jaya tapi dengan versi yang jauh lebih muda. Sendiri, dan kadang termakan sepi. Lalu diselamatkan oleh musik yang menari-nari menghias sepi.

Akhir-akhir ini sisi melankolisku mudah tersentil bukan oleh drama atau pertikaian. Namun pada orang yang dengan menghirup napas panjangnya masih mau berdamai dengan keadaan. Kesalahan-kesalahan dari masa lalu yang sebenarnya terlalu sakit untuk ditengok kembali.

Seperti Pak Jaya yang berusaha berdamai dengan Laras, anak mantan kekasihnya dengan laki-laki lain. Berdamai selalu sulit untuk dilakukan, apalagi jika kesalahan di masa lalu tersebut tidak benar-benar dilakukan oleh salah satu atau keduanya, namun orang lain yang membawa kesalahpahaman dalam hidup mereka. Dan apabila orang tersebut masih mau berdamai, aku kagum atas luasnya hati yang ia punya. Bahwa ternyata berdamai itu melegakan, bagi orang-orang yang sanggup untuk kembali mengorek luka lama lalu benar-benar diobati agar sembuh total.

Namun, nyali ternyata tidak tumbuh di jiwa setiap manusia. Di antara manusia-manusia tersebut, ada yang terlalu takut bilang, dan ada pula yang terlalu takut hilang.

Purbalingga, 21 September 2022

No comments:

Post a Comment