Sore ini aku sedang duduk-duduk di halaman belakang kantor sendirian. Sekadar menikmati momen sebelum pulang ke tempat kos yang akhir-akhir ini sedang sepi. Entah kenapa, tiba-tiba memori otakku memutar peristiwa yang sampai sekarang selalu berhasil membuat bulukuduk berdiri. Peristiwa itu ialah konser musik fisiphoria undip tahun 2019.
Kala itu fisiphoria menampilkan tiga musisi yang memang sedang digandrungi. Sal Priadi, Kunto Aji, dan The Godfather of Broken Heart, almarhum Didi Kempot. Sal Priadi membuka pertunjukan dengan lagu Ikat Aku di Tulang Belikatmu yang sontak langsung direspon oleh ribuan manusia yang sedang menonton konser musik tersebut dengan bernyanyi bersama-sama. Sal membuka pertunjukan tersebut dengan sangat apik. Setelah itu Kunto Aji tampil, ia membawakan tembang Rancang Rencana untuk membuka penampilannya, yang juga disambut dengan nyanyian ribuan manusia yang ada di sana. Setelah ini peristiwa yang tak akan aku lupa itu terjadi.
Saat itu tiba saatnya Kunto Aji membawakan lagu favoritku yaitu Pilu Membiru, ia membawakannya dengan sangat indah. Namun di tengah lagu, tiba-tiba Kunto Aji sedikit bermonolog tentang satu kejadian yang cukup mengagetkan. Ia memberi tahu tentang ada salah satu seksi acara di konser tersebut (aku lupa ketua seksinya atau bukan), orang yang menyusun terlaksananya acara tersebut baru saja meninggal dunia.
Dia jatuh sakit saat acara tersebut sedang direncanakan, namun ia tetap memantau dari rumah sakit hingga semua aspek di acara tersebut dinyatakan siap. Dan saat semua sudah siap, ia seperti menganggap bahwa tugas yang ia emban sudah selesai, setelah itu ia menutup mata dan tak pernah membukanya lagi. Aku masih sangat ingat, kejadian itu terjadi di tengah lagu Pilu Membiru, dan saat Kunto Aji selesai bercerita tentang peristiwa tersebut, ia lalu melanjutkan nyanyiannya di bagian
"Masih banyak yang belum sempat, aku katakan padamu. Masih banyak yang belum sempat, aku sampaikan padamu."
Sembari layar di belakangnya menampilkan sosok perempuan yang cantik jelita namun kini telah tiada. Sontak, kedua tanganku langsung memegang bagian tengkukku sendiri, merasakan getirnya peristiwa yang baru saja terjadi, dan diiringi dengan lagu yang seperti memang diciptakan untuk momen ini.
Terlihat pula ada beberapa panitia yang terisak dan bersandar di bahu temannya sambil menutup mulutnya ataupun menyeka air matanya. Aku lalu menutup mata dan mengikuti nyanyian yang sedang dinyanyikan oleh Kunto Aji dengan sangat hikmat. Belum pernah aku menyanyi dengan keadaan sehikmat itu. Beberapa isak tangis juga terdengar dari sisi kanan dan kiri kupingku, yang membuatku tambah merinding karena ternyata kami, penonton konser waktu itu merasakan getir yang sama, dan semoga nyanyian kami terdengar oleh seorang perempuan tersebut, bukan di sini, namun di surga yang sedang ia tempati.
Rest in Love.
Purbalingga, 29 Oktober 2022

No comments:
Post a Comment