Hari ini sekitar pukul 10 malam, aku baru pulang dari kantor tempatku bekerja. Lumayan larut untuk jam kerja pegawai pada umumnya. Mengendarai motor yang selalu menemani hari-hariku sejak SMA, aku membelah udara malam menuju tempat indekos dengan harapan bisa lekas bersih-bersih badan dan istirahat.
Namun di tengah perjalanan, aku baru ingat harus beli beberapa keperluan, aku memutuskan untuk berhenti di minimarket terdekat saja. Setelah parkir motor, aku menuju pintu masuk di minimarket tersebut. Suasana di sini lumayan sepi, mungkin karena sudah malam dan hari ini bukan akhir pekan juga. Jadi kebanyakan orang mungkin lebih memilih untuk kembali ke rumah dan merebahkan diri setelah melewati letihnya hari.
Aku berbelanja keperluan anak kos seperlunya. Saat sedang keliling minimarket tersebut, mataku tiba-tiba tertuju pada satu sereal yang sudah lama tidak kujumpa, sereal itu bernama froot loops. Aku lalu mendekati rak tempat froot loops itu berada, ia seolah-olah bersinar dan menggoda untuk diambil dan dibeli. Dengan cepat, aku mengambil dan meletakkannya di keranjang belanja untuk kemudian diletakkan di meja kasir.
Saat pelayan sedang menghitung hasil belanjaan, mataku tak kunjung bisa lepas dari sereal itu. Sereal yang di waktu kecil hanya bisa aku lihat sambil menelan ludah, karena mungkin dianggap mahal, dan kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan di rumahku yang lebih akrab dengan tahu, tempe, dan butir-butir telur.
Saat ini, kebetulan aku belum terlalu lama mendapat satu pekerjaan, namun kebetulan pula hari ini aku habis gajian, aku seperti anak kecil yang merengek kepengen ini dan itu. Senyumku terukir saat mbak-mbak pelayan itu mengambil dan meng 'tit' kan sereal yang menjadi dambaanku sejak kecil itu. Aku lalu membayarnya dan pulang menuju tempat indekos.
Di jalan pulang, aku berkata dalam hati. Terkadang hal-hal besar memang berawal dari sesuatu yang kecil, dan peristiwa hari ini menunjukkan, bahwa tidak semua yang membahagiakan itu harus senantiasa berbau kemewahan. Bisa beli sereal yang harganya 20 ribuan saja sudah cukup untuk bisa menebus kebahagiaan masa kecil yang dari dulu tak kunjung terealisasi. Senyumku terukir tambah lebar di jalan waktu itu, isi kepalaku terlempar ke masa lalu, mengenang step demi step dalam hidup yang akhirnya membawaku sampai saat ini.
Untuk semua yang sudah dilalui, entah itu pahit atau manis, hitam atau putih. Terima kasih, telah membentukku menjadi aku yang sekarang ini. Aku yang saat ini masih berdiri dan bersiap untuk bisa melewati hari demi hari, yang mungkin akan berhias duri, atau sebaliknya, akan berlimpah seri.
Purbalingga, 14 Juli 2022

No comments:
Post a Comment