Singgah



Sepertinya sudah puluhan kali aku mengantarmu ke lorong keberangkatan di stasiun itu, pun sebaliknya, kau pun juga begitu jika aku sedang singgah ke kotamu. Rasanya selalu sama, seperti separuh roh yang ada di jasadku hilang terbawa deru lenguhan kereta itu. Tak apa, akan ada waktu bertemu lagi. Ucapku dalam hati untuk membohongi hatiku sendiri, sungguh ironi.

Namun upayaku tersebut mungkin akan berakhir sama pula, kau dan aku akan mengantar satu sama lain untuk berpisah dengan rentang waktu yang tak pernah kita tahu. Entah sudah berapa stasiun yang kami sapa, berapa kereta yang kami tumpangi satu sama lain untuk kemudian bisa bertemu di satu titik yang sama-sama kami sepakati.

Waktu tergerus bagai roda kereta yang menggilas rel dengan kecepatan maksimalnya saat kami sedang berbagi suasana berdua. Sabar ya, akan ada waktunya untuk kita singgah di tempat yang sama, dengan tempo yang tentu lebih lama dari gilasan roda kereta yang tak tahu getirnya perpisahan.

"Semoga, ya hari ini, lebih baik dari hari kemarin"

Lagu milik Nostress bertajuk Semoga, ya itu tiba-tiba terngiang di telingaku ketika sedang menulis cerita ini. Cerita sederhana tentang dua manusia yang ingin meramu kisah bersama. Kisah yang masih berbau semoga ini semoga tidak berakhir nestapa. Karena ternyata, ada banyak hal yang masih sama-sama kami perjuangkan, banyak doa yang masih sama-sama kami lantunkan, dan terlalu banyak hal baik yang sayang untuk kami lewatkan. Sebentar lagi ya, semoga.

Purwokerto, 10 Februari 2024

No comments:

Post a Comment