Leles

Leles, nama stasiun yang mungkin akan selalu terpatri di ingatan sebagai salah satu stasiun bersejarah, khususnya untukku pribadi.

Pagi itu aku berangkat dari Purwokerto, menggunakan kereta, yang akan membawa kakiku berjalan sejajar denganmu lagi. Sesampainya di Leles, kamu menyambut dengan senyuman yang lugas, buah dari panjangnya jarak dan waktu yang memaksa kita untuk melepas genggaman satu sama lain.

Kembali asing, adalah kesan pertama saat aku kembali bersamamu kali ini. Aku merasa kamu bergerak dengan fase yang begitu cepat, sementara aku terlena dengan fase yang relatif lebih lambat. Sepertinya walau kita sudah selalu berkabar lewat telepon pintar masing-masing, nyatanya tak pernah bisa mengalahkan hangatnya pertemuan.

Kita berpindah dari warung kopi satu ke warung kopi lain, mencari penghangat dari udara yang mulai dingin, atau mencari pendingin dari obrolan yang kian hangat. Terima kasih karena selalu setia mendengarkan segala yang aku lontarkan. Sebagaimana aku juga berusaha mengerti tentang apa yang belakangan ini sedang kamu kerjakan.

Hubungan ini masih jauh, jauh dari kata sempurna, dan sepertinya memang tidak akan sempurna. Karena kalau sudah sempurna, sepertinya kita akan berhenti berusaha. Berusaha mendengarkan, berusaha mengerti, berusaha mencari titik tengah pada satu dan lain hal yang sedang terjadi di kehidupan kita masing-masing.

Sebenarnya, aku datang ke sini membawa bara api yang sedang berkobar. Namun anehnya, bara api yang sudah kubawa dari lama, perlahan padam tanpa alasan yang jelas. Melihatmu masih bisa tertawa lepas setelah diterpa berbagai problema saja ternyata sudah cukup untuk menambal luka. Tanaman agar bisa tumbuh subur membutuhkan pupuk, begitu juga kita. Harus ada peristiwa-peristiwa pahit, bau, busuk, agar kita bisa tumbuh bersama sebagai tanaman yang akan menghasilkan buah yang manis. Semoga begitu adanya.

Namun ternyata, waktu memang kurang ajar, ia terus menerus berdetak menyaksikan kita yang tenggelam dalam kehangatan. Hingga tiba waktunya kamu dan aku kembali ke Leles, bukan untuk menyambut, namun untuk melepasku dalam kabut tipis yang membawa keretaku kembali. Sekali lagi, terima kasih. Sampai nanti, sampai kita bertemu dengan fase dan cerita yang baru lagi.

Leles, 23 Februari 2025.

No comments:

Post a Comment