(Part 3, End) Menyusun Asa






Keesokan harinya, kami bangun agak siang. Entah, malam itu tidur terasa sangat nyenyak. Kami bergegas keluar tenda untuk memasak, cacing di perut kami sudah bergemuruh seperti marching band yang sedang pentas di sebuah festival. Usai makan, kami packing ulang, merobohkan tenda lalu meringkas semuanya untuk dimasukkan kembali ke dalam tas. Setelah semua dikira sudah, kami melanjutkan perjalanan.

Kami hanya butuh sekitar satu setengah jam untuk bisa sampai di pos 5. Di sini, kami kembali mendirikan tenda untuk bermalam. Kenapa pos 5, bukan pos-pos di atasnya lagi saja? Jawabannya ialah selain lahan yang sempit, saya dengar dari beberapa pendaki yang saya temui di sepanjang jalan lebih baik mendirikan tenda di pos 5 saja, paling nyaman. Yasudah kami menghabiskan sore di pos 5 dengan memasak, masakan dengan menu paling komplit dan kaya akan gizi dari semua masakan yang pernah rombongan kami masak di gunung-gunung sebelumnya, 4 sehat 5 sempurna versi gunung lah. 

Tanpa sadar, matahari telah dilahap oleh sang dewi malam, menandakan mata harus segera dipejamkan. Mengingat besok pagi buta kami harus summit menuju puncak slamet!

Kami bangun sekitar pukul setengah 3 pagi, namun saya sendiri sepertinya hampir tidak tidur sama sekali, karena mendadak mendapat pasien di dalam tenda, ada satu teman yang menderita cidera pada punggungnya, ia tak bisa tidur, merasakan sakit yang luar biasa katanya, karena kasihan, saya pun menemani sambil sesekali terlelap 5-10 menit, lalu bangun karena teman yang sedang sakit tadi tidak bisa diam mencari posisi paling enak untuk menahan rasa sakitnya.

Setelah bangun, kami lalu siap-siap. Tak perlu lagi membawa carrier yang menyiksa punggung, kini satu rombongan hanya membawa dua tas daypack untuk tempat bekal ke puncak nanti. Sekitar pukul 3.15 kami memulai perjalanan, dinginnya gunung slamet ibarat duri tajam yang menusuk badan. Sudah lama kami berjalan, namun pos 6 tidak kunjung terlihat, kaki mulai pegal, napas ngos-ngosan, juga teman yang punggungnya sakit tadi harus pintar-pintar mencari posisi yang pas, agar rasa sakit tadi bisa sedikit terobati. Kami memutuskan berhenti di tepi jalur pendakian, putus asa, bisa tidak menggapai atap slamet ini? Di jalur pendakian, kami bertemu dengan rombongan pendaki lain, ada salah satu teman yang iseng bertanya.

"Pos 6 masih jauh mas?"
"Pos 6? Pos 6 sudah lewat mas, di atas kita sudah pos 7"

Mendengar perkataan itu, ada semangat yang kembali muncul, sedikit lagi, batin kami. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 7,8, dan 9 (Plawangan), Karena memang jarak antar pos tersebut dekat-dekat. Di pos 9 ini, matahari sudah berusaha mengintip dari sisi timur, merasa disambut oleh indahnya, kami seperti mendapat suntikan semangat lagi, puncak semakin dekat, semangat.

Ternyata, jalur menuju puncak ini adalah yang terberat. Pasir dan batu berkolaborasi menyulitkan kami melangkah, setapak demi setapak kami menaiki kolaborasi batu dan pasir ini. Setelah berjalan sekitar satu setengah jam, kaki kami akhirnya menapaki puncak tertinggi jawa tengah. Bangga, lelah, haru, senang, lepas menjadi satu, kami berhasil. Terima kasih, bersama kita telah berhasil mengukir kisah, entah akan dikenang dalam bungah, atau hanya akan disimpan dalam resah.


Slamet, 3 Juli 2019

No comments:

Post a Comment