Beberapa hari belakangan, perasaan cemas terus tercipta, ihwal orang-orang baru yang perlahan masuk berusaha mencari afeksi, entah dari aku, atau dari dirimu sekalipun. Memang ada segelintir orang baru yang mungkin berniat mendekati, namun aku yakin kamu tahu bagaimana diriku ini.
Priceless
Malam itu detak arlojiku seperti berhenti bergerak, namun kemudian kembali berjalan mengikuti irama yang kami buat setelahnya. Entah kenapa tiba-tiba kami sama-sama merasa, bahwa memang inilah waktunya. Lagi-lagi malam menjadi media paling sederhana untuk dapat menerjemahkan rasa, walaupun memang bukan dengan kata-kata. Intuisi yang akhirnya mempunyai andil besar terhadap heningnya malam yang ada, lalu semua mengalir dengan sendirinya, mengikuti gerakan ranting pohon yang bergesekan membuat orkestra alami membelah heningnya malam.
2 a.m.
Sesuatu yang baru perdana dilakukan selalu menorehkan gita yang lebih tebal pada sebuah aksara yang tertulis rapi di kertas putih bernama kehidupan. Poin tadi ibarat tombol bold yang ditekan saat kita ingin melakukan penekanan pada sebuah kata yang akan dituliskan. Entah bagaimana, semesta akhirnya memutuskan menunjuk dirimu menekan tombol bold tersebut untuk pertama kalinya.
Subscribe to:
Comments (Atom)


