Priceless


Malam itu detak arlojiku seperti berhenti bergerak, namun kemudian kembali berjalan mengikuti irama yang kami buat setelahnya. Entah kenapa tiba-tiba kami sama-sama merasa, bahwa memang inilah waktunya. Lagi-lagi malam menjadi media paling sederhana untuk dapat menerjemahkan rasa, walaupun memang bukan dengan kata-kata. Intuisi yang akhirnya mempunyai andil besar terhadap heningnya malam yang ada, lalu semua mengalir dengan sendirinya, mengikuti gerakan ranting pohon yang bergesekan membuat orkestra alami membelah heningnya malam.

Malam itu, ada rasa yang tumpah. Airnya mengalir membasahi kaos oblong yang sedikit lusuh karena terlalu sering dipakai. Ada dekapan yang lelah, dibenamkannya dalam pundak yang juga resah. Habiskan saja air yang tersisa di pelupuk mata, selagi bisa.

Terkadang kau berpikir bahwa semua masalah bisa kau hadapi sendirian, namun jangan pernah lupa bahwa kau juga punya aku di sini. Saat timbunan problema tersebut kau pendam sendirian, kau hanya akan menyusahkan dirimu saat secara tak sengaja masalah tersebut kembali muncul ke permukaan. Memang ada kalanya kau lupa akan segala masalah yang ada, namun tak mungkin kau bisa melupakan problema itu selamanya. Pasti ada suatu masa, saat masalah tersebut kembali menghiasi lamunanmu yang indah, lalu semua berubah gelap karena kau berpikir mengapa masalah tersebut muncul lagi padahal kehadirannya tak pernah diharapkan sama sekali.

Mulai sekarang, kau harus ingat. Bahwa ada telinga yang selalu sudi mendengar keluh tiap kali kau butuhkan, ada mata yang selalu berusaha meneduhkan teriknya perasaan, ada pundak yang bersedia menampung di kala capai mendera pikiran, ada pula raga yang tercipta sebagai tempat untuk sekadar erat kau dekap, dan ada aku, jika kau butuh tempat pulang, dari acuhnya dunia luar yang memuakkan.

Satu yang perlu diingat, jangan memikirkan sesuatu secara berlebihan, walau terkadang hal tersebut sulit dilakukan, apalagi teruntuk seseorang yang dianggap spesial. Namun percaya atau tidak, berpikir secara berlebihan tentang bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu, akan membuatmu merasa susah sendiri, paranoid. Satu lagi yang penting ialah menanamkan sikap pada seseorang yang dianggap spesial tadi. Sikap yang membuat seseorang akan berpikir dua sampai tiga kali saat ingin melakukan sesuatu yang mungkin tak akan kau suka, dan pada akhirnya ia tak akan melakukannya sama sekali, bukan karena ia takut pada dirimu, melainkan karena ia hormat kepadamu. Menakut-nakuti hanya akan membuat seseorang mencari pelarian, namun menanamkan respect akan membuat seseorang selalu ingat, bahwa ada tanggung jawab terhadap orang yang telah sama-sama menanamkan sikap sedari awal.

Sikap apa? Sikap saling menghargai. Saat dirimu telah sampai di tahap ini, sebesar apapun badai yang menerpa, sebatang pohon tak akan pernah mampu tercabut dari akarnya, karena apa? Karena ada harga yang tak bisa dinilai oleh apapun. Tentang bagaimana awal kisah ini bisa dimulai, tentang bagaimana cara kita melewati segala ranjau yang tak pernah terlihat keberadaannya, tentang  bagaimana cara bertahan dari teriknya mentari siang sampai beku nya seutas malam yang habis diguyur hujan, dan lain sebagainya. Hanya kita yang mengetahuinya, bukan orang lain. Dan saat rasa saling menghargai itu tadi telah ditanam, yakinlah, seseorang tak akan bisa membeli apapun dari kita untuk kepentingan pribadinya. Maka hargailah, sekecil apapun hal yang ia perbuat, kau takkan menyangka bahwa hal kecil tersebut dapat mengejutkanmu kelak.

Terima kasih, telah selalu ada❤
Semarang, 12 Mei 2019

No comments:

Post a Comment