2 a.m.


Sesuatu yang baru perdana dilakukan selalu menorehkan gita yang lebih tebal pada sebuah aksara yang tertulis rapi di kertas putih bernama kehidupan. Poin tadi ibarat tombol bold yang ditekan saat kita ingin melakukan penekanan pada sebuah kata yang akan dituliskan. Entah bagaimana, semesta akhirnya memutuskan menunjuk dirimu menekan tombol bold tersebut untuk pertama kalinya.

Waktu kali ini menunjukkan pukul dua dini hari, malam sepertinya sengaja menciptakan heningnya agar sepasang manusia bisa bersimfoni dalam balutan romansa yang ada. Pada tiga perempat perjalanan malam menuju fajar kali ini ada riuh yang tercipta, perasaan yang sama sekali belum pernah dirasa sebelumnya. Intuisi yang dimilikinya selalu tepat dalam membaca sekecup suasana. Malam yang biasanya berlalu begitu cepat, kini seperti berhenti bergerak. Waktu seperti mempersilakan tuannya untuk lebih lama mendiami fana-nya malam. Terkadang heran juga, mengapa tak ada habisnya sebuah percakapan yang setiap hari dilontarkan, tak terkecuali malam ini sekalipun, selalu hangat seperti biasanya, bagai nyala perapian yang berdiri gagah menembus dinginnya jenggala.

Namun ada yang tak biasa, perlahan kau menciptakan suasana yang berbeda, suasana yang kini ikut aku aminkan agar menjadi nyata. Tak bisa dideskripsikan, tak bisa dijelaskan, tak bisa digambarkan, namun bisa dirasakan. Ada letupan yang akhirnya menciptakan setetes nuansa, sebagai sarana untuk menutup sebuah hari yang manja.

Terkadang timbul tanya, mengapa akhirnya aku dipertemukan oleh wujud manusia yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku pernah berandai pula, bagaimana hidup jika tidak ada dirimu untuk kusanding sepanjang waktu. Namun jika sudah sampai ke ranah tersebut, kita bisa panjang lebar berdebat mengenai teori konspirasi yang mungkin isunya tak pernah basi. Aku sih gamau capek, buat apa berdebat jika akhirnya titik terang tak kunjung tercipta? Apa susahnya menikmati jika memang teori tersebut benar adanya? Hanya terkadang lucu saja, saat mengingat-ingat kembali bagaimana awal kita dipertemukan. Semesta memang selalu mengejutkan.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya ada prinsip yang terluka. Prinsip tentang menghargai pasangan yang akan kusanding nantinya. Aku percaya apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Oleh karena itu aku berpikir, bagaimana aku bisa memuliakan manusia apabila kata mulia tersebut sedikit tergores keberadaanya? Dari situ aku belajar tentang arti dari sebuah tanggung jawab. Perdananya sebuah peristiwa kali ini seperti melahirkan beban. Ah bukan beban ding, pelecut semangat. Perlu banyak belajar untuk bisa berdiri disampingmu kelak, ada sesuatu yang harus terus diasah. Pikiran, hati, dan usaha. Akan ada pekerjaan yang harus diselesaikan nantinya, aku akan berjuang agar dapat dinilai pantas, kuharap kau selalu mau melakukan dorongan jika aku lelah, juga mengkritik jika salah.

Karena sebuah peristiwa akan selalu ada pertanggungjawabannya, walau aku tak mau egois tentang prinsip yang aku punya. Namun toh akhir dari prinsip ini adalah untukmu juga. Jangan cepat menyerah menghadapi rintangan yang mungkin sudah menunggu di depan sana. Saling menguatkan, saling memantaskan. Jadikan hal-hal yang selama ini kita idam-idamkan menjadi bahan bakar pelecut semangat untuk selalu berusaha. Ingin kulihat apa yang menjadi khayalan kita sekarang terwujud nantinya. Apa kau juga? Jika iya, jangan terjebak dalam mimpi, mari bangun untuk segera memulai hari.


My first.
Semarang, 5 Mei 2019

No comments:

Post a Comment