Menunggu Pagi


Malam ini seperti biasa, terlalu sibuk menebak arah langkah dari sebuah lamunan yang sejenak hinggap di pikiran. Kantuk sejenak menyapa, namun otak tak mau berhenti menerka.

Aku tak pernah mau mengganggu privasi manusia, aku hanya takut ada gundah yang tak bisa terucap, terpendam dalam-dalam di dalam lubuk yang sebelumnya telah giat menanam. Tak apa jika buah pikiran tersebut belum mau diutarakan, namun aku harap, kelak akan kau kelakarkan. Kita sudah sering berbagi nestapa, mendekap tangis yang sekadar mampir menyambangi jiwa yang sedang lengang. Kita juga tak pernah absen berbagi hagia, yang disela-sela nya selalu terselip rindu yang tak pernah jelas terucap, hanya tersirat sebagai syarat. 

Kurasa aku sudah bukan orang lain bagimu, pun sebaliknya. Jangan pernah ragu untuk mengungkap hal-hal tabu, meskipun terkadang memang kau tak ingin mengutarakan hal itu untuk saat ini, entah karena waktu yang masih memintamu untuk bisu atau ihwal gengsi yang terkadang masih setia membayangi. Tak apa, aku tak pernah memaksa, aku hanya takut segala paksaan itu malah mengubahmu menjadi sesuatu yang bukan kamu. Kamu mempunyai hidup yang tak boleh seseorang pun mengganggu, kalau kata Joseph Elliott, kemana pun kau berjalan, aku akan berada dua langkah dibelakangmu, mengawasimu dari berbagai macam tingkahmu yang terkadang ambigu, lalu memberi saran yang juga bebas untuk kau tolak, yang penting pesanku telah sampai di tiap lekuk telingamu, dengan harapan dapat selalu terngiang agar kamu tahu selalu ada aku di belakangmu.

Maaf jika saranku terkadang terlalu mengekang egomu, maaf juga jika terkadang masih ada sifat egois di dalam setiap kata-kataku untuk mencegahmu melakukan ini itu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu, untuk sebuah hubungan yang mungkin sedikit aneh bagi mereka yang kurang membuka mata pada dunia. 

Jangan pernah lelah mendekapku, dalam alunan siang yang riang, atau gelapnya malam yang lengang. Entah aku tak tahu, jika tidak ada bahumu untuk sejenak kepalaku dapat bersandar, apakah aku masih dapat berdiri tegak seperti sekarang ini? 

Terima kasih telah menjadi temanku dalam mengarungi segala yang tercipta pada semesta, selalu berharap dapat seperti ini sampai waktu berkata sudah waktunya menutup mata untuk selamanya. Menunggu pagi tiba bersamamu tak pernah bosan bagiku, bersama kita lewati gulita malam untuk menyambut lentera terang. Semoga diberkati, dan selalu terberkati. Satu lagi, jangan berhenti mencintai.


Semarang, 23 Juni 2019

No comments:

Post a Comment