Hari demi hari berlalu, bukannya semakin menguasai, ternyata aku belum sepenuhnya mengenalimu, entah karena aku yang terlalu acuh atau bagaimana, di tiap hari kita meramu, selalu tertanam pelajaran baru, yang membuatku semakin takut melewati itu.
Aku selalu ingat bagaimana awal pertemuan itu terjadi, bagaimana segalanya bermula, hingga telah sampai ke detik ini sekarang. Saat kurasa banyak hal telah kita bagi, ternyata masih banyak yang belum kuketahui. Mengenalimu bagai menyelam di samudra nan luas, Aku tak pernah tau ada apa di bawah sana.
Di kedalaman dangkal, kulihat beberapa terumbu karang dan ikan-ikan yang indah sedang bercengkrama, berhias cahaya matahari yang berusaha mempercantik isi lautan. Semakin aku ke dalam semakin hilang cahaya matahari tersebut, mulai kutemui sepinya jiwa yang remang. Terumbu karang yang indah tadi hilang, berganti dengan sesuatu yang hampa, gelap dan lengang. Ikan yang ada pun berbentuk menyeramkan, buas. Mungkin karena sinar matahari tak bisa masuk ke sini. Semakin ke dalam lagi, aku merasa otak dan hati seperti dikoyak dengan hebatnya, banyak yang bilang pada kedalaman ini adalah batas manusia dapat menyelam. Namun aku masih bersikeras masuk, berusaha menguasai dan mengenali dirimu yang kini ada di sisiku. Namun semakin aku masuk, semakin keras lautan tersebut mengoyak hati dan pikiranku, memaksaku untuk meledakkan diri agar binasa aku di dalam sana.
Saat aku sudah mencapai batasnya, tiba-tiba ada yang memancar dari dalam tubuhku, aku heran, lalu berusaha kucari darimana cahaya ini berasal. Ternyata cahaya tersebut muncul dari dalam dada, tubuhku menjadi transparan, sehingga cahaya yang ada menyebar ke seluruh penjuru laut yang gelap tersebut, dengan radius yang hanya pendek tentu saja. Lentera, satu kata lalu tertanam dalam otakku yang telah habis dikoyak dalamnya lautan tadi.
Aku lalu melihat sekeliling, tetap lengang. Namun, apa itu? Ada seseorang yang termenung di situ, duduk sendiri di dalam temaramnya lautan. Aku mencoba mendekatinya, hey ternyata ia manusia. Kucoba memberanikan diri untuk bertanya, ia tak menjawab, kucoba beberapa kali lagi, ia hanya memalingkan muka. Dia yang daritadi tidak mau melihat kehadiraku, lalu mau membuka matanya, ia sedikit kaget, mengapa aku bercahaya. Aku bilang, aku adalah lentera, izinkan aku memegang tanganmu untuk kubawa keluar dari sini, ia tak mau. Entah ada keberanian dari mana, spontan aku memeluknya, ia terkejut. Namun aku lebih terkejut, karena setelahnya, ia lalu memancarkan cahaya yang sama, lautan yang tadinya gelap mendapat secercah cahaya dari dua lentera yang kembali mendapat asa. Ia lalu berkata.
"Semenjak saat itu, cahaya ini tak pernah bersinar lagi, namun entah kenapa saat dirimu di sini, cahaya ini kembali."
Ia lalu tersenyum, manis.
"Terima kasih."
Ia lalu membalas dekapan spontan tadi, memelukku erat sembari berharap, jangan pernah lepas.
Semarang, 25 Juni 2019

No comments:
Post a Comment