Akhir-akhir ini aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri tiap kali orang-orang terdekatku kecewa, berubah sikap, menangis, atau hal-hal berbau negatif lainnya, dan aku tak bisa hadir untuk sekadar memeluknya. Jika sudah begitu, beribu pertanyaan biasanya muncul di kepala begitu saja tanpa aba-aba. Manusia gagal. Cap yang kuberikan pada diriku sendiri.
"Hey, sudahlah, itu sama sekali bukan salahmu."
Kata-kata yang kau tahu hanya untuk membuatmu sedikit merasa lega, walaupun akhirnya itu tidak mengubah suasana.
Beruntunglah orang-orang yang bisa melampiaskan amarahnya ke hal-hal yang tidak merugikan orang lain. Karena terkadang, aku merasa kasihan terhadap orang-orang pemarah, orang-orang berhati kecil, atau orang-orang yang mudah tersinggung, imbas dari amarah yang mengendap terlalu dalam dan tidak bisa keluar dalam wujud yang lebih baik.
Dalam kasusku, Ibu memegang peran penting dalam mengelola emosi. Bagaimana tidak, di usia dua puluh lima tahun ini, Ibu hampir tak pernah absen untuk mengirim pesan,
"Kak, subuh."
Walaupun aku biasa membalasnya kalau sudah sampai di kantor.
"Iyaa udah, udah di kantor juga, Bu." Balasku biasanya.
"Ya sudah, semangat kerjanya ya, Nak." Balas Ibu kemudian.
Kalimat harian sederhana ini hampir tak pernah absen hinggap di hp pribadiku. Terberkatilah tiap pagiku. Seperti ada selimut yang menghangatkan hati, untuk selalu siap menjalani hari.
Aku tahu, tidak semua orang mendapat hak istimewa seperti aku. Maka dari itu, sekeras mungkin aku berusaha menularkan hak istimewa ini padamu. Mungkin tidak sedahsyat doa ibu, namun setidaknya, kamu bisa minimal menggoreskan senyum di wajah masammu tiap kali ngobrol denganku. Hal kecil yang membuatku merasa menjadi manusia yang berhasil.
"Berarti kamu cuma hidup untuk menghibur orang lain?" Tanyamu.
"Iya." Jawabku.
"Kenapa?" Tanyamu lagi.
"Karena tiap kali mati, Ibu menghidupkanku kembali."
Catatan pukul dua pagi,
Purbalingga, 3 Desember 2024.

No comments:
Post a Comment