Mungkin di antara jutaan atau milyaran manusia di muka bumi ini, penulis cukup diberkati dalam hal begitu murahnya cara mereka untuk menumpahkan emosi. Tinggal duduk, melamun, lalu menulis. Cukup hemat dibandingkan orang-orang yang menumpahkan emosinya dengan cara menyewa satu ruangan untuk memukul atau memecahkan benda-benda yang memang disediakan untuk dihancurkan. Atau mereka yang melarikan pikiran mereka ke hal-hal yang berbau obat-obatan. Walaupun di lain sisi, menjadi penulis juga rentan mendapat stigma,
"Kamu pengen jadi penulis? Mau dikasih makan apa anak istrimu nanti?"
Hah, hidup memang sarat akan perspektif. Tinggal dari sudut pandang mana kamu ingin memandangnya.
Ngomong-ngomong, entah kenapa akhir-akhir ini aku kerap disalahkan atas banyak hal yang kukerjakan. Padahal dari sudut pandangku, hal yang kulakukan itu sudah benar adanya, namun ternyata benar memang belum tentu bijaksana.
Untuk beberapa saat selanjutnya, aku mencoba menilik dari dua sudut pandang tiap kali mengerjakan sesuatu, karena setelah dipikir-pikir, memang belakangan ini aku cenderung hanya memikirkan diriku sendiri.
Namun bukannya lebih baik, hal ini malah menambah masalah baru lagi. Masalah apa? Aku jadi mudah berkompromi akan sesuatu. Bukankah itu malah baik? Tergantung dari sudut pandang mana dulu kamu melihatnya. Mungkin kini aku jadi tidak terlalu egois, namun di lain sisi, pendirian yang seharusnya kuat dan tegak, perlahan terkikis. Berakhir jadi tidak punya pendirian yang jelas. Salah lagi.
Yah, sebagai manusia yang baru hidup seperempat abad, masih banyak hal yang harus dipelajari, banyak hal yang harus ditemui dan dihadapi, mengutip kata-kata dari bapaknya seseorang yang kerap dijadikan meme di twitter,
"Le, ojo mabuk-mabukan lho ya, hadapi setiap masalahmu secara jantan."
Kata-kata simpel yang berhasil menohok pelipis kiriku, bahwa kadang masalah hanya perlu dihadapi dulu, belum tentu selesai, namun setidaknya, kamu tidak lari. Karena sejauh apapun kamu mencoba lari dari suatu masalah, masalah itu hanya menunggumu untuk kembali. Anjay.
Kembali ke poin sudut pandang, ia memang pisau bermata dua, jadi silakan pilih bilah mana yang ingin dihunuskan untuk membunuh masalah-masalah yang sedang kamu hadapi. Mungkin akan ada cibiran dari sana sini, namun selama kamu punya landasan yang memadai, masalah sebesar apapun yang ada di atas sana, akan landing dengan aman-aman saja, semoga.
Oh iya, aku menulis ini pada sore hari, di dalam kereta menuju Surakarta. Setelah menemui banyak orang dengan berbagai perspektif, juga masalahnya. Lelah memang, namun, kurasa hari ini aku berhasil. Mengapa? Karena aku tetap di sini, menghadapi. Menulis semua emosi, dalam bentuk diksi-diksi.
Kutoarjo, 26 November 2024.

No comments:
Post a Comment