Aku melihat bayangmu sore tadi, di kerumunan manusia yang sedang mengantre lampu merah, di kaca spion sepeda motor yang sudah kupakai sejak masa kuliah, di riuhnya lalu lintas pada jam pulang kerja. Namun tampaknya aku salah, tidak ada kamu di sepanjang perjalanan aku pulang kerja tadi sore.
Aku punya kebiasaan menghadirkan seseorang dalam bentuk bau, berbagai tester parfum kucoba untuk merangkai baumu, sejauh ini belum ada yang cocok, ada beberapa yang nyaris menghadirkanmu dalam bau itu, namun belum ada yang seindah baumu. Akhirnya aku melepas seragam tempurku, merebah sejenak sebelum kembali menulis esai tentang dirimu, satu-satunya hal yang kubisa untuk melepas rindu.
Di film Coco, seseorang hanya akan hilang kalau sudah tidak ada yang mengingat ia lagi di dunia ini, tapi ini berlaku untuk arwah, bukan kamu yang masih ada di muka bumi ini. Maka aku akan selalu menyandingmu pada ruang hampa, entah dalam wujud apa. Lagu favoritmu selalu kuputar setiap kali aku merasa sepi.
If I fell in love with you
Would you promise to be true
And help me understand
Cause I've been in love before
And I found that love was more
Than just holding hands.
Terkadang, lagu milik The Beatles itu terus menari-nari di kepalaku bahkan saat aku sedang tidak memutar lagu tersebut di aplikasi streaming musik yang ada di ponsel pintarku.
Aku penasaran, hanya aku yang merasakan ini, atau kaupun juga? Yah apapun itu, aku juga tidak memintamu melakukan hal yang sama denganku, karena nyatanya benih yang kau tanam belum tentu menghasilkan tanaman yang segar, siapa tahu tiba-tiba ada badai tornado yang memporak-porandakan itu semua, jadi semua itu tak masalah bagiku.
Tugasku hanya memeluk rindu dalam bentuk hampa dirimu, sambil berharap, keajaiban itu benar-benar membawa dirimu kembali ke pelukanku.
Purbalingga, 16 Juli 2025

No comments:
Post a Comment