Terjebak dalam waktu yang menuntut jawaban dari sebuah kebimbangan, dipaksa menelan serat-serat pahit yang disebut takdir, memilih untuk menggores atau digores, logika atau rasa, insting atau akal.
Terkadang apa yang kita idam-idamkan tak selalu terwujudkan, hanya segelintir yang berhasil mencapainya. Aku hanya tak mau kehilangan, namun di sisi lain juga tak mau menggoreskan bilur-bilur di jiwa seseorang yang tak pernah merugikan. Mungkin benar adanya, hidup akan selalu menyuguhkan pilihan yang tak selamanya menyenangkan, ada kalanya seseorang harus memilih pilihan yang sama-sama pahit untuk dimakan. Dengan pertimbangan yang matang, kita harus pintar-pintar memilih sesuatu yang sama pahitnya, memilah supaya orang yang kita sayang tak merasakan hal yang sama pula.
Aku punya prinsip, setidaknya orang-orang tersayang di hidupku tidak atau jangan sampai memakan pahitnya hidup, cukup aku, biarlah aku saja yang menderita, karena aku percaya dibalik sebuah derita akan ada cahaya, entah dalam bentuk apa. Semesta selalu menemukan cara terbaik untuk mengejutkan insannya. Dan kali ini semesta mengirim dirimu untukku.
Tembalang, 14 Oktober 2018
Tembalang, 14 Oktober 2018
No comments:
Post a Comment