Terima Kasih


Awalnya aku sempat meragukan seperti apa wujud kota yang akan kutuju ini, bisakah aku mengikuti arusnya, atau harus terbuang dari arus yang ada.

Masa perkenalan lingkungan baru selalu sulit bagiku, aku yang tak bisa terlalu cepat beradaptasi harus rela jika terkadang dicap aneh oleh orang karena sifatku yang lebih suka asik dengan duniaku sendiri ini. Namun dibalik adaptasi yang lambat ini, perlahan pula aku menemukan kepingan-kepingan yang kelak bisa disebut kenangan. Kepingan yang berusaha kususun sedemikian rupa agar terukir kesan manis didalamnya, kesan yang mengingatkanku pada seseorang yang spesial, teman-teman baru dengan aneka ragam rupa, dan sekelumit masalah yang menjadi pelengkap tentang pahit manisnya hidup, hitam putihnya yang selalu mewarnai hari-hari di kota yang kusinggahi selama kurang lebih tiga tahun ini. Ah, malam ini sungguh tak adil, ia selalu bisa membuatku mengingat momen-momen indah yang hanya bisa kukenang.

Hai? Apa kabar? Semoga senantiasa baik. Di kota ini kita berkenalan, dari awal yang acuh, karena sebuah peristiwa kita jadi merasa saling membutuhkan, entah kau merasakannya juga atau tidak, tapi aku merasa sangat mendapat tempat di hatimu walau kau belum tentu merasakan hal yang sama pula. Itupun cukup bagiku, mengingat aku terlalu jarang bisa sedekat itu dengan perempuan.

Kau tahu sebuah hal yang menyakitkan? Kalah dari ego sendiri. Maafkan aku yang tak pernah bisa menang melawan ego yang tertanam di diriku ini, namun dari hati yang paling tulus aku berani berkata bahwa aku mencintaimu. Kini, setiap kali kota itu muncul di pikiran, ada bayanganmu yang selalu mengikutinya, kau istimewa, terima kasih atas semuanya.


Tembalang, 28 September 2018

No comments:

Post a Comment