Sore di Sebuah Gang Kecil


Satu kebiasaan yang sering kulakukan sebelum masuk rumah, menunggu punggungmu lenyap dari gang kecil tempat tinggalku berada. Walau jujur, aku benci tiap kali hal itu terjadi. Entah kenapa sebenarnya diriku tak ingin ragamu hilang ditelan jalanan, aku ingin ragamu di sisiku, selalu.

Mungkin baru khayalan semata, namun di setiap doa yang kulantunkan, ada secarik harap tentang impian yang tak pernah terlupakan, iya, dirimu. Deru knalpot motormu yang selalu menghiasi pikiran setelah selesai mengantar dan memastikan diriku selamat sampai ke tempat ternyaman dalam hidup, perlahan senyap karena kau juga harus kembali ke tempat dimana orang-orang terdekatmu berada.

Setelah suara knalpot motormu tak terdengar lagi, aku lirih berbisik pada gang kecil ini, yang menjadi saksi bisu saat kau menjemput dan memastikanku kembali lagi dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Hey gang kecil, apakah kamu juga suka dia? Jika kamu suka, bolehkah kamu memperkenankan dirinya ada di sini menemani diriku tuk jangka waktu yang tidak ditentukan? Hening, tak ada jawaban.

Namun perlahan sinar matahari jatuh membuka mendung yang sedari siang menghiasi kota, gang kecil ini seperti bersinar diterpa sayup-sayup cahaya matahari sore, indah. Aku pun tersenyum, syukurlah jika kamu menyukainya juga, gang kecil, aku juga berharap hal yang sama.

Banyumanik, 28 Oktober 2018

No comments:

Post a Comment