Me-refresh pikiran, kata salah satu dari kami. Kami tiba di basecamp Sindoro pukul 23.30 WIB, tidur di basecamp semalam lalu memutuskan untuk melakukan pendakian esok harinya.
Esok hari pukul 09.30 kami berangkat menggunakan jasa ojek yang tersedia di basecamp, saya sarankan naik ojek, selain dapat memangkas waktu dan tenaga, kalian akan merasakan wahana roller coaster versi kearifan lokal, haha. Biaya dari ojek itu sendiri adalah 25 ribu rupiah per-orang. Oh iya kami mendaki sindoro via kledung. Ojek berhenti di pos 1 setengah, kami menyebutnya pos ojek, karena di situ memang ada beberapa ojek yang stand by menunggu pendaki yang turun, dan berharap masih ada yang mau menggunakan jasa roller coaster yang ditawarkannya.
Kami lalu berjalan menyusuri jalanan tanah, trek awal didominasi tanah dengan kemiringan wajar dan sesekali landai, belum terlalu menyiksa dengkul, sekitar satu jam berlalu kami tiba di pos dua. Di pos dua kami istirahat sejenak, berbincang hangat dengan rombongan pendaki lain, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 3.
Trek menuju pos 3 ini tak jauh berbeda dari trek sebelumnya, tanah dengan kemiringan normal masih menghiasi perjalanan, bedanya tak ada tanah landai kali ini, dengkul ini sepertinya mulai merintih. Setelah berjalan sekitar 2,5 jam kami tiba di pos 3, membuka logistik untuk mengisi tenaga sejenak. Sebenarnya salah satu dari kami merekomendasikan untuk mendirikan tenda di pos 3 dengan pertimbangan lahan yang tidak terlalu terbuka sehingga angin yang menerpa tidak terlalu kencang pula, namun setelah dipikir-pikir lagi, pos sunrise hanya 15 menit dari pos 3 dan sangat kepalang tanggung, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos sunrise.
Pos sunrise adalah batas terakhir pendirian tenda, setelah pos tersebut tidak direkomendasikan mendirikan tenda, mengingat hampir tidak ada tanah yang datar, sekaligus angin yang kencang sewaktu-waktu bisa membuat tenda terbang, melayang, menuju tak terbayang, apaan sih. Sesampainya di pos sunrise, kami mendirikan tenda, lalu mulai memasak, rampung memasak kami lalu rebahan karena perjalanan menuju puncak masih akan dilakukan esok hari. Sore itu, hujan turun lumayan deras, kami yang tak mau keluar tenda karena hujan akhirnya memutuskan untuk tidur sejenak.
Namun karena tidak bisa tidur, aku lalu keluar dan mengobrol dengan pendaki asal Surabaya yang kami temui sedari pos dua tadi, sambil menunggu senja yang turun perlahan, sindoro menyambut kami dengan sangat hangat. Teman-teman yang satu-persatu mulai bangun kemudian asyik mengabadikan momen dengan berfoto seiring matahari yang mulai dilahap sang petang. Setelah malam tiba, kami masak lagi, untuk kemudian lanjut tidur. Oh ya, kami mendirikan dua tenda berhadap-hadapan, setiap tenda diisi tiga orang.
Sedang nikmat tidur, tiba-tiba aku merasa ada yang memanggil, sontak aku terbangun, jam berapa ini? Sepertinya baru sebentar aku tertidur. Ternyata temanku tenda sebelah yang memanggil, dan berkata bahwa tendanya baru saja diserang musang, alhasil tenda yang dia tempati robek, namun tidak terlalu parah. Setelah peristiwa tersebut aku tidak bisa tidur, karena suara-suara musang dan babi hutan membuat tidur tak tenang. Aku hanya menghadap langit-langit tenda yang gelap, sambil sesekali menengok dua temanku yang tertidur pulas, kenapa mereka bisa pulas begitu, sedangkan aku tak kunjung mengantuk. Namun sekitar pukul 4 akhirnya aku bisa tertidur juga.
Baru satu jam, alarm berbunyi dengan kencang, sialan, baru juga bisa tidur. Namun, karena sudah malas di tenda, aku lalu keluar dan disambut oleh hangatnya mentari pagi, dengan lautan awannya, sindoro benar-benar memanjakan mata kami. Di seberang, gunung sumbing dengan gagahnya ikut menyapa. Setelah puas berfoto, kami lalu melakukan summit! Atau berjalan menuju puncak. Dan ternyata perjuangan yang sebenarnya adalah di perjalanan menuju puncak ini, beuh capek euy!
Karena aku bertugas sebagai tim sapu bersih (orang paling belakang) aku harus dengan sabar menunggu, karena setiap orang memiliki kemampuan fisik yang berbeda-beda, ah tak apa, aku pun pejalan lamban juga. Walaupun beberapa dari kami hampir putus asa, namun tular-menular semangat antar kami menjadi motivasi tersendiri, satu sampai puncak, semua harus ikut pula. Dan setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, kami akhirnya sampai, ada sedikit haru yang perlahan mulai membiru, kami berhasil, terima kasih.
Sindoro, 24 Oktober 2018


No comments:
Post a Comment