Renjana














Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang tak bisa dipaksa oleh alasan yang tak konkret. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang merdeka dari label-label cap romansa lama. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang tidak begitu saja mengikuti arus yang ada.

Terdengar egois memang, namun memang begitu adanya, aku pernah dengar seseorang berkata bahwa terlalu dini untuk berkomitmen pada saat ini, namun kemudian mengapa kata-kata tersebut seperti hanya menjadi angin lalu saja? Kukira kau berbeda, namun dalam satu sisi ternyata masih sama saja, maklum, sifat alami manusia, tak salah juga.

Iya aku paham, kau juga tahu bagaimana diriku, maafkan jika aku belum bisa memenuhi kesan yang ingin kau dapat dariku ini. Benar adanya apabila perasaan adalah hal paling rumit dari hidup, karena selain tak nampak, ia juga bisa berganti-ganti wujud semaunya sendiri, menyebalkan.

Walau begitu, apabila kau mau bersabar lagi, mungkin akan ada secercah cahaya yang akan lewat menyinari. Bukannya aku tidak mau, namun apakah kamu belum juga menangkap inti dari apa yang selama ini kita bicarakan? Aku bukan mau memanfaatkanmu atas segala hal negatif yang tertanam dalam diriku. Aku hanya mau kau menyadari bahwa jika sudah waktunya, aku akan ada, namun jika telah tertanam rasa pesimis pada dirimu, aku bisa apa.

Nikmatilah momen-momen indah yang direkam oleh masing-masing dari mata kita saat ini, jangan berharap yang muluk-muluk dulu, aku juga masih berusaha untuk dinilai pantas. Jika kau menjawabnya dengan mari bersama-sama kita memantaskan diri, aku akan terang-terangan menolaknya.

Tugasmu adalah untuk dibuat bahagia, biarkan aku yang membuatmu demikian, namun sekali lagi, aku harap dirimu sabar menunggu, walau sesuatu tersebut terkesan tak pasti,  namun bukankah memang hidup sering mengejutkanmu dengan ketidakpastian? Aku harap akhir dari ketidakpastian tersebut dapat membuatmu menarik sudut-sudut bibirmu yang manis itu, aku menunggunya, sebagai pelepas penat dan pendorong semangat, selamat berjuang mengatasi yang tak pernah pasti, semesta memberkati.


Rangga Heryan Kusuma
Tembalang, 15 Oktober 2018

No comments:

Post a Comment