Tanda Tanya


Pernah tidak dirimu merasa terlalu marah dengan seseorang, lalu terisak. Bukan sebagai pelampiasan, namun tiba-tiba otak seperti mengingat kembali sebuah peristiwa yang orang tersebut pernah alami di masa lalunya, sehingga dirimu merasa seperti ciut sendiri, merasa tak berguna, hingga akhirnya berujung marah pada diri sendiri, mengapa diri ini begitu cengeng, seperti anak kecil yang merengek karena permen yang dimintanya tak mau diberikan oleh sang ibu.

Begitu malu, begitu absurd, marah hanya tinggal marah belaka, tak tahu pada siapa, tak jelas apa alasan yang melatarbelakanginya, pecundang. Lalu mencari pelampiasan, mengutuk diri sendiri, mencari tempat sepi supaya tak ada orang yang tahu tentang peristiwa yang terjadi. Lelaki malang, batinmu kala itu, sungguh kasihan.

Beberapa saat kemudian, ia membuka galeri yang ada di handphone-nya, mencari-cari sesuatu yang mungkin dapat berarti. Lalu bertemu satu foto seseorang yang sedang ingin ia marahi tadi, sedang tersenyum bahkan tertawa lepas. Lelaki tersebut ikut tersenyum pula, lalu membenamkan wajahnya pada bantal di atas kasurnya, kembali mengutuk diri, namun kali ini disertai janji.

Dalam kecumik bibir yang tertutup bantal itu ia berbunyi: Akan kucoba semampuku menjadi sesuatu yang menghapus beban yang tercetak samar di kerut dahimu itu, mengempiskan kantung matamu yang lelah bergulat dengan malam, mengukir senyum yang selalu bisa membuatku berarti lebih dari apapun, bahagia selalu, pinta lelaki itu dari bibir yang terbenam bantal, entah dengan cara seperti itu Tuhan akan bisa mendengarnya atau tidak, namun ia lega telah menemukan alasan.

Bukan alasan dari suatu kemarahan yang disebut tadi, melainkan alasan untuk selalu bersikap tegar saat seseorang membutuhkan dadanya untuk membenamkan semua nestapa yang terkadang masih hadir kembali, lewat pemantik yang selalu bisa membuat api kecil menjadi besar. Benamkan saja segala perasaanmu padaku, pinta lelaki itu, yang perlahan kaosnya mulai basah oleh air mata, bunga dari perasaan yang dibawa oleh masa lalunya, namun dalam dekapan malam, wanita tersebut mulai bangun dari dada sang lelaki, meminta maaf karena kaosnya harus basah oleh luka masa lampau yang tak pernah berhenti melukainya.

Lelaki tersebut tersenyum, dibarengi wanita yang kini duduk di sebelahnya, malam kembali menulis cerita sederhana tentang gejolak rasa sepasang manusia, yang juga masih bertanya-tanya sebenarnya mereka itu apa.


Wonogiri, 20 Desember 2018

No comments:

Post a Comment