Diam


Malam ini hujan turun dengan lebatnya, menggagalkan rencana dua orang manusia yang ingin menghabiskan malam di pusat kota yang terkenal cukup  padat. Tinggal lah mereka di beranda tempat indekos sang wanita, sembari menunggu hujan yang mungkin akan memakan waktu yang lumayan lama, mengingat tebalnya mega mendung di atas sana. Sebenarnya aku tidak suka dengan kalimat gagal, karena sesuatu yang tak diduga terkadang datang dari reaksi spontan otak saat mencari alternatif lain dari suatu kegagalan.

Walau hujan terus mengguyur, aku sebenarnya malah suka. Karena alternatif di sini adalah aku bisa kembali berbagi pikiran, beradu argumen, lalu berandai-andai denganmu, dan hal-hal tersebut tak pernah membosankan, aku harap akan seperti itu, selalu. Malam itu kami berbincang tentang banyak hal, salah satunya tentang aku yang memilih diam saat terkadang ia berbuat sesuatu yang tak kusuka. Ia tentu protes, mengapa aku hanya diam dan selalu diam, dia berharap jika dia memiliki salah ya tolong diingatkan, tidak hanya diam saja, walaupun ia tahu perbedaan diamku saat aku sedang benar-benar tidak suka —ya walaupun tidak selalu.

Diamku di sini mungkin hanya terlihat dari luar, karena di dalam sini, ada gejolak pikiran yang terkadang sangat menjengkelkan. Aku akhirnya menjelaskan bahwa aku bukanlah tipe seorang pengekang, ia pun menjawab bahwa ia mengetahuinya, namun apa salahnya mengingatkan? Aku kembali berkata bahwa untuk saat ini mungkin aku belum patut mengingatkan atau menasehati, aku hanya takut kau risih dengan segala peraturan yang tak tertulis itu.

Aku juga menjelaskan bahwa aku adalah orang yang tak mau melakukan sesuatu jika aku juga tidak suka saat sesuatu yang aku lakukan tersebut kelak akan menimpaku juga. Kita ambil contoh, aku tidak pernah menggoda wanita, karena aku tahu rasanya jika wanitaku digoda oleh orang lain. Aku tidak mau terlalu 'nempel' dengan wanita lain karena aku tahu bagaimana rasanya jika wanitaku juga terlalu 'nempel' pada lelaki lain.

Contoh-contoh tersebut yang aku harap dapat menyadarkan seseorang bahwa ada rasa sakit yang selalu menyelimuti diamnya seseorang. Namun di luar itu semua, bisa selepas itu mengatakan unek-unek dalam hati yang telah lama terpendam tersebut sudah membuatku sangat lega, mengingat aku yang tidak bisa terlalu terbuka pada orang lain, aku hanya mau menceritakan sesuatu pada seseorang yang ku anggap pas, dan aku menemukan perasaan itu pada sosokmu, jadilah seperti itu, selalu.


Wonogiri, 26 Desember 2018

No comments:

Post a Comment