Tiap sunyi malam terlewati dengan tak pernah sekalipun aku absen menulis sesuatu tentangmu, bukan untuk ditunjukkan kepadamu secara langsung, apa daya aku yang hanya bisa melihatmu dari kejauhan, diri ini masih terlalu ciut untuk sekadar menatap sepasang mata yang bekilau itu.
Purnama demi purnama berlalu, kaupun semakin jauh dariku, terkadang ingin sekali memaki diri, mengapa tak pernah berani mengutarakan isi hati. Semakin lama semakin jauh, dan dirimu hilang bersama senja yang tenggelam di kotaku kala itu.
Malam-malamku kembali sunyi tanpa ada hasrat untuk menulis lagi, sampai tiba-tiba ada seseorang datang mengetuk pintu yang kini berdebu itu. Ia datang seorang diri, tanpa modal apa-apa, seseorang yang murni belum terkontaminasi, seperti beningnya embun di pagi hari. Namun di kerut dahinya tampak ada sesuatu yang sepertinya ia coba tutup dengan rapat.
Ternyata ia seperti bunga mawar, yang sebenarnya tak pernah berharap ada duri yang menempel di badannya yang anggun, karena ia tak bisa memilih juga untuk dilahirkan seperti apa. Aku mencoba memetik mawar tersebut, indah. Semakin lama mawar tersebut kupegang dengan eratnya, dan tak diduga ada bulir-bulir darah yang mengalir dari sela-sela genggaman itu, sakit.
Sejenak ingin kulepas saja mawar tersebut dari genggaman, namun saat dipikir lagi, betapa sedihnya ia saat tak pernah memiliki kesempatan untuk memilih supaya duri tersebut tak pernah ada di tubuhnya. Tak apa, aku akan selalu memegang erat duri itu, walau aku harus sakit lagi, mekarlah menjadi bunga yang selalu indah dipandang, akan kututupi duri yang tak kau harapkan itu, semampuku. Kau pantas tumbuh menjadi yang terindah, jangan kau memaksaku untuk melepas genggaman itu, jangan kau buat aku sedih karena harus mendengarkan kata-katamu yang selalu pesimis ketika kita sedang berbicara tentang sepasang insan yang mendamba sebongkah janji suci.
Sebisa mungkin aku akan selalu menutupi duri yang mengganggumu itu, jangan pernah berkata suatu hal tentang pesimis lagi, karena kau masih punya aku di sini.
Banyumanik, 5 Desember 2018
Banyumanik, 5 Desember 2018
No comments:
Post a Comment