Hari-hari terlewati tanpa pernah sekali pun melewatkan biasmu di temaram lampu berandaku. Bagai dongeng sebelum tidur, kusaksikan kau bercerita tentang segala hal, tentang hari yang panjang, tentang luka lama yang kembali dibuka, atau tentang beberapa orang yang baru saja kau kenalkan —secara sepihak.
Entah, aku tak pernah bisa mengatur hidup orang lain, tak terlepas dirimu sekalipun. Bukan apa-apa, akhir-akhir ini aku tak mau terlalu memasuki kehidupan seseorang bila orang tersebut tidak mempersilakannya terlebih dahulu. Selain bukan urusanku, aku takut jika hadirku malah menjadi belati yang siap menikam kapanpun jua, tanpa kusadari adanya.
Dua purnama berlalu, sebelum kau kembali disampingku. Di stasiun tua itu aku termangu, menunggu hadirmu. Di sisi kanan dan kiri, kulihat beberapa isak tercipta di ruang keberangkatan, kulihat pula beberapa dekapan tercipta di ruang kedatangan, namun tak kunjung kulihat dirimu yang selalu mengiasi angan. Padatnya lalu lintas kerumunan orang di pelataran stasiun ini membuatku sulit melihatmu yang kutunggu. Namun dari kerumunan itu, tampak seseorang yang kesulitan membawa barang bawaan, aku lalu mendekatinya untuk sekadar menawarkan bantuan.
"Butuh bantuan, Buk?" Tegurku
Ia lalu menoleh ke arahku, senyum terkembang di bibirnya, mengikuti irama bibirku yang tersenyum pula.
"Jangan cuma bilang, nih bantuin."
Dilemparkannya tas punggung itu ke pelukku, untuk kemudian kubawa benda tersebut beserta pemiliknya ke parkiran, lalu sejenak mencari sepeda motor yang sempat lupa dimana ia terparkir tadinya. Setelah motor ditemukan, kami lalu keluar dari stasiun melintasi jalanan kota yang cukup padat pada malam hari ini.
"Laper?" Ucapku memecah keheningan
"Laper, tapi kayanya naruh barang dulu aja deh." Kata gadis tersebut
"Baiklah."
Sepeda motor tua ini melaju membelah belantara kota yang padat, untuk kemudian mendarat di tempat kediaman sang gadis. Setelah selesai dengan segala pernak pernik barang yang telah diletakkan, kami lalu menuju ke tempat makan yang telah kami setujui sebelumnya. Memesan makanan, lalu menunggu. Obrolan-obrolan kecil menghiasi kami yang sedang menunggu, hangat, seperti biasanya acap kali dirimu bercerita. Setelah makanan datang, kami lalu menyantapnya dengan penuh suka, karena sudah kelaparan tentunya. Makanan habis, kami pun bergegas pulang.
Namun, karena disuruh mampir, aku lalu turun dan duduk di beranda rumahnya. Secangkir kopi dan coklat panas disajikan, beradu denting untuk memecah keheningan malam yang sudah hampir larut ini. Ah, jika saja aku memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu, tak akan pernah waktu tersebut kuputar agar tak pernah bisa aku berpisah denganmu, agar sunyinya malam abadi dalam genggaman kita meramu kisah, dan agar tak akan pernah tercipta sebuah kata bernama pisah.
Wonogiri, 16 Januari 2019
No comments:
Post a Comment