Elang



Dirimu ibarat burung elang, yang memiliki pandangan seluas cakrawala, dengan gagah perkasa, terbang nan elok mengelilingi dunia.

Sama halnya seperti tiap burung yang ada, kau tak mungkin suka diikat ataupun disangkar, mengingat daya jelajahmu yang mencakup sampai ke pelosok nusa, mencari segala yang kau inginkan, pun idam-idamkan.

Namun satu yang perlu diingat, kelebihan-kelebihan yang kau miliki tersebut dengan mudah dapat menarik perhatian sebagian kalangan untuk melumpuhkan, menjerat, ataupun memburu dirimu yang terlalu menarik untuk sekadar dimiliki. Ada juga kalangan lain yang selalu sudi tuk melihatmu jatuh tersungkur rata dengan tanah, asal kau tahu saja.

Satu yang menjadi keistimewaanmu, elangku. Kau selalu ingat untuk pulang, karena merasa punya tugas yang lebih berat dari sekadar menjelajahi nusa, yaitu menghidupkan ruang diskusi mungil bernama keluarga. Di dalam sarang yang kau buat sendiri itu, ada keluarga yang selalu cemas menunggumu pulang setiap kali kau memutuskan untuk pergi berkelana.

Doa-doa yang selalu terlantun dari sesuatu yang kau anggap rumah itu selalu mengiringi setiap kepakan sayapmu di udara, menjaga setiap celah tubuhmu yang renta, hingga memeluk dengan semu dirimu yang selalu dirindu.

Aku percaya, tidak ada yang meragu keperkasaanmu di sana, namun perlu kau tahu, ada beberapa pihak yang selalu diam merenung mencemaskan. Dan lewat doa malam yang terlantun khusyuk itu, mengalir selalu untaian semoga yang mendoakan keselamatan, keberkahan, juga kecintaan.

Dari diriku yang selalu menunggu dirimu pulang.


Wonogiri, 25 Januari 2019

No comments:

Post a Comment