Maaf


Kau tahu aku tak pernah mau menyakitimu, kau tahu betapa diri ini kumaki karena lidah yang tak sengaja mengecap kata yang membuat gendang telingamu perih, kau tahu betapa aku tak rela jika ada telinga lain yang menjadi pendengar barumu saat aku kau anggap sebagai pengacau harimu?

Tak pernah sekalipun aku mencoba menyayatkan luka pada tubuh yang telah memiliki banyak luka itu, yang dapat kembali basah kapanpun juga, aku tak sengaja, maafkan lontaran aksara yang tak kusangka dapat merubah segalanya.

Siapa yang kan menyapa awal pagiku jika tiada hadirmu di sana? Siapa yang menjadi penyejuk di kala mentari siang begitu tajam menikam? Siapa yang menjadi pendengar jika malam selalu diam saat ku ajak ia bicara? Siapa? Dirimu.

Sepenting itu peranmu di skenario yang telah Tuhan titipkan padaku. Kata Rowan Atkinson, "Aku suka berjalan di bawah hujan, karena tidak ada yang dapat melihatku menangis di sana." Namun aku percaya dirimu tidak selemah itu, setelah semua yang telah kita lalui, kau membuktikan padaku jika dirimu jauh lebih tegar dari diriku, oleh karena itu, jangan berlarut dalam kesedihan, karena aku selalu butuh dirimu untuk memberi sentuhan warna pada kertas kanvas yang bernama kehidupan ini.

Satu lagi, jangan berhenti mencintai❤

Wonogiri, 21 Januari 2019

No comments:

Post a Comment