Beberapa hal terkadang begitu lucu untuk dikenang, tentang pertemuan yang tak sengaja, dan tentang perempuan yang tak pernah diduga sebelumnya. Entah, semua berjalan seperti ini adanya, kurasa waktu terlalu cepat melahap tubuhnya. Seperti baru kemarin kami saling bertegur sapa untuk pertama kalinya, kini jarak sedang berusaha menyapa, memaksa merenggangkan dua insan yang saling menggenggam. Namun tahukah apa yang istimewa dari semua ini? Gunung.
Sebuah pertemuan yang sedikit beku sebenarnya, walau di sini mulai terlihat kejahatan-kejahatan kecil seperti acuhnya sang laki-laki pada awal kami memulai pendakian di merapi. Berlanjut pada mulai ada pencurian pandangan saat kami mendaki gunung merbabu, lalu mulai mencair saat kami melakukan pendakian di gunung ungaran, kemudian suasana menghangat saat dinginnya sindoro dengan kejamnya menikam badan, hingga gunung sumbing menjadi puncaknya. Saat semua yang tertahan dikeluarkan, perasaan yang tertutup kabut tersebut perlahan memudar, berganti dengan terangnya sang surya yang muncul dari ufuk timur, membawa kehangatan juga keindahan alam bawah sadar pada masing-masing pribadi kami. Gunung prau hadir sebagai media untuk mengenang, berdua kita duduk sembari mengingat masa silam, lalu tawa pecah saat masa-masa menggelikan tersebut kembali diputar oleh masing-masing otak kita, masa-masa naif, masa-masa acuh, masa-masa meniti rasa, hingga semua menjadi seperti ini adanya.
Sampai saat ini, aku belum menemukan kata-kata yang pas untuk memberi predikat pada gunung, ia tidak bisa dideskripsikan. Ia ada bukan untuk ditaklukkan, ia ada supaya manusia senantiasa menengok ke atas, saat mereka sedang berada di bawah. Ia ada agar manusia senantiasa menunduk saat mereka telah sampai di atasnya. Artinya, jangan pernah jemawa, karena saat kau di bawah dan menengok ke atas, kau akan menyadari bahwa masih ada rintangan-rintangan yang menunggumu di sana, dan saat kau sampai di puncak, kau akan sadar betapa kecilnya dirimu di atas sana, betapa rapuhnya kita jikalau saja gunung ini mau berontak sedikit saja. Lalu dari semua itu, siapa yang ditaklukkan sebenarnya? Ego manusia.
Pada akhirnya, aku tetap tidak bisa menemukan kata yang pas untuk mendeskripsikan gunung ini. Canda, tawa, tangis, kesal, putus asa, cinta, rasa, dan lain sebagainya muncul dengan sendirinya. Betapa nilai dari sebuah perjalanan ini memang tak akan pernah bisa dibeli oleh lembar-lembar uang yang selalu dipuja di kota. Bahwa ada unsur-unsur abstrak yang mewarnai sebuah perjalanan kami menyusuri dinginnya jalan setapak yang ada, dan ada sesosok manusia yang pada awalnya tidak disadari keberadaannya, kini berdiri di samping raga, juga jiwa. Berdua kami meniti perjalanan menembus belantara, leher kami senantiasa menengok ke atas, melihat puncak yang didamba, jatuh bangun senantiasa menghiasi perjalanan, dan itu adalah hal yang biasa. Jangan menyerah, bantu aku mengaminkan doa, agar senantiasa dipermudah perjalanan kita, menuju puncak yang sama-sama kita impikan, juga harapkan.
From the middle of nowhere,
30 April 2019






No comments:
Post a Comment