Berdua kita berjalan di bawah kerlip gemintang, dengan satu sumber cahaya dari sebuah senter yang usang. Tapak kaki kita bergantian menepuk jalan semen yang sedikit koyak termakan usia, disaksikan ratusan kembang kol di kiri dan kanan yang sedang berusaha menyapa.
(Part 3, End) Menyusun Asa
Keesokan harinya, kami bangun agak siang. Entah, malam itu tidur terasa sangat nyenyak. Kami bergegas keluar tenda untuk memasak, cacing di perut kami sudah bergemuruh seperti marching band yang sedang pentas di sebuah festival. Usai makan, kami packing ulang, merobohkan tenda lalu meringkas semuanya untuk dimasukkan kembali ke dalam tas. Setelah semua dikira sudah, kami melanjutkan perjalanan.
(Part 2) Tentang Sebuah Kompromi
Perjalanan dari basecamp ke pos satu sebenarnya didominasi oleh trek yang landai, namun jarak tempuhnya yang jauh membuat kami yang jalannya sangat santai ini memerlukan sekitar satu jam untuk sampai di pos 1 bayangan (pos sebelum pos 1). Kami istirahat sejenak di pos 1 bayangan, karena di pos 1 bayangan ini terdapat shelter yang meneduhkan hari yang cukup menyengat. Kami lalu membeli semangka yang segarnya tiada tara, sepotong semangka di gunung mungkin akan menjadi salah satu makanan favorit bagi saya nantinya.
(Part 1) Slamet dan Awal yang Rumit
Slamet, satu kata tersebut akhirnya terceletuk dari bibir seorang teman, karena sudah terlalu penat menghadapi semester 4 yang terlalu istimewa melibas hati dan pikiran kami, kiranya akan setimpal menyegarkan pikiran di gunung tertinggi se jawa tengah ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)


