Lupa Waktu

Berdua kita berjalan di bawah kerlip gemintang, dengan satu sumber cahaya dari sebuah senter yang usang. Tapak kaki kita bergantian menepuk jalan semen yang sedikit koyak termakan usia, disaksikan ratusan kembang kol di kiri dan kanan yang sedang berusaha menyapa.

"Kau tahu apa yang istimewa pada malam ini?" Ucapku memecah keheningan
"Apa?"
"Ternyata, bahagia sesederhana ini ya."
"Maksudnya?"
"Jalan berdua bersamamu, menyusuri malam yang selalu berlalu begitu cepat."

Kau tersenyum.

"Terima kasih" Ucapmu.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang kau berikan."
"Tak perlu."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku senang bisa melakukan itu bersamamu."

Kau tersenyum lagi.

Perjalanan turun dari gunung ini memberi kesan tersendiri bagi kami, jalanan yang sunyi menjadi media kami berinteraksi, tentang rasa yang tertumpuk, tentang penat yang menimpuk.

Pikiran kami lalu meraba pada bagaimana awal kisah ini dapat terukir menjadi seperti ini adanya, nostalgia. Tak terasa, waktu melibas kami dengan cepatnya, tak ada rencana, tak ada wacana, murni sepasang manusia yang hanya ingin melewati waktu bersama. Sejenak pikiranku berhenti, lalu berpikir tentang apa yang telah kami lewati selama ini.

Jujur, setelah selama ini melewati waktu bersamamu, banyak dari sifatmu yang terlewat menyebalkan dan merepotkan. Namun setelah dipikr-pikir lagi, sepertinya aku lebih tak rela jika waktumu kau habiskan dengan orang lain yang bukan aku. Maka izinkan aku untuk selalu mengganggu waktumu, dengan segala caraku yang terkadang tabu.

Izinkan pula aku untuk terus mengenalimu, karena kurasa, setelah sekian lama bersama, banyak dari segi hidupmu yang masih asing bagiku. Walau aku tahu, kau berhak mempertahankan privasi hidupmu, sesuatu yang tak boleh disentuh oleh siapapun, tak terkecuali orang terdekatmu sekalipun. Tenang, aku tak akan mengusik itu, karena aku takut, niat awal yang hanya ingin mengenali akan berubah menjadi menguasai.

Saking asyiknya berkhayal, tak terasa gerbang masuk ke desa telah terlihat.

"Sudah sampai." Ucapku
"Eh iyaa."
"Ternyata kebiasaan kita tak pernah berubah ya?"
"Apa itu?"
"Lupa waktu."

Di ujung perjalanan ini, ada sebuah rasa yang tersirat, yang tak kunjung mau tersurat. Bahwasannya benar, kita terlalu sering mendebat siapa dan kemana, padahal yang dibutuhkan hanya sekadar menikmati waktu, bersama.

Pemalang, 21 Juli 2019

No comments:

Post a Comment