Two Steps Behind


Sendiri terkadang sesunyi itu, sesepi itu. Namun di lain sisi, ternyata ia juga punya arti, bagi orang-orang yang mau menggali.

Di malam yang dingin itu, tampak seorang pria sedang duduk sendiri, sembari memperhatikan perapian yang baru saja ia buat, berharap dingin yang ada bisa luluh oleh kobaran api yang sedang melahap beberapa balok kayu bakar. Di atap sana, ribuan bintang menyapa, menghiasi gulita dengan gemerlap badannya. Selembar matras menjadi alas sang pria, mencegah tanah yang lembab mencium celana kargonya.

"Apakah memang hidup sesulit ini?" Gumam sang pria dalam hati

Tentu saja ia tak mendapat jawaban, malah jika ada yang menjawab, mungkin ia akan bergidik sendiri, mengingat ia hanya sendirian di sana.

Sang pria nampak bosan sekaligus bingung, harus kembali menjalani harinya dengan seperti apa. Matanya tetap tertuju pada nyala perapian, yang sesekali berhias lelatu. Ia memperhatikan balok-balok kayu bakar yang tengah menjadi makanan dari nyala api malam itu, lalu membayangkan hidup menjadi sepertinya, yang merelakan badannya hangus demi menciptakan kehangatan yang dibawa oleh kobaran api. Kehangatan yang dapat membunuh suhu dingin di sebuah pegunungan, lalu orang-orang akan berkumpul mengitarinya, berbagi canda, berbagi cerita, kadang juga bernyanyi dengan riang gembira, tak pernah memperhatikan semakin habisnya kayu bakar yang ada, kecuali kobaran api yang awalnya besar itu perlahan mengecil, lalu padam, baru mereka akan sadar dan memperhatikannya. Dan mungkin hanya sebatas itu. Selanjutnya? Ditinggal. Sisa-sisa bara yang ada dibiarkan menyatu dengan tanah begitu saja. Sang pria lalu bergumam lagi.

"Apakah hidup memang harus seperti itu?"

Ia kembali merenung.

Jika memang iya, tak apa. Ia tetap bersyukur, karena setidaknya di hidup yang singkat ini ia dapat bermanfaat bagi orang lain, entah siapapun itu. Tak peduli apakah yang ia lakukan akan merugikan dirinya sendiri, selama ia masih berguna, ia akan mencoba semaksimal mungkin melakukannya. Setelah berkhayal cukup lama, ia tampak seperti mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya, ia lalu sedikit waspada.

"Hei!" Sapa orang itu, suara seorang perempuan.

"Astaga, mengapa kau di sini?" Ucap sang pria tampak kaget.

"Mencarimu."
"Darimana tahu?"
"Hafal, jika kau menghilang, pasti kutemui di sini. Lagian seperti baru kenal saja."
"Beh, benar juga."

Sang perempuan lalu duduk di sebelah sang pria, berbagi selembar matras tipis yang menjadi alasnya. Mata sang pria yang sedari tadi memperhatikan kobaran perapian, sejenak beralih melihat sang perempuan yang duduk di sampingnya.

"Mengapa kau mencariku?"
"Tak apa, rindu. Kucari di rumah katanya kau pergi, sendiri. Ya sudah kucari di sini. Eh, ternyata ada.
"Bagaimana kalau ternyata aku tidak di sini?"
"Mungkin aku akan lari, kembali pulang, hehe."
"Dasar."

Mereka lalu berbincang tentang apa saja yang terlintas di kepala, setelah detik demi detik berjalan, sang pria menarik kembali khayalannya tentang sebalok kayu bakar tadi, ia tak mau menjadi sepertinya. Karena percuma ia bermanfaat bagi orang lain, namun rugi, lalu mati. Siapa yang kelak akan menjaga perempuan di sampingnya ini? Sang pria lalu tersenyum karena lamunannya sendiri. Sepertinya ia tak akan sanggup melihat sang perempuan dijaga oleh orang lain, oleh karena itu ia kembali bergumam dalam hati. Izinkan aku untuk terus menjagamu, jika sedang membutuhkan, tengoklah ke belakang, aku selalu berada dua langkah di belakangmu.

Sang pria lalu bangun dari lamunan, melihat sang perempuan yang sedang membenarkan tutup kepalanya, lalu tersenyum, lepas.

Semarang, 23 Oktober 2019

No comments:

Post a Comment