Nelangsa

Malam ini, hujan membalas rasa rindunya pada tanah yang gersang. Hujan perdana, setelah kemarau dirasa sangat panjang. Tak terasa satu tahun berlalu, hujan perdana tahun lalu juga sempat aku abadikan ke dalam sebuah tulisan, sama seperti saat ini, hanya dengan rasa yang berbeda.

Jika tahun lalu aku mengabadikan momen ini dengan cara memperhatikan sebuah romansa sederhana yang sedang tercipta, tahun ini hujan seperti bahasa langit untuk mengisyaratkan duka, bahwa dari atas sana, dapat terlihat banyak orang yang mati karena mencoba menyuarakan hak-hak mereka di negeri ini.

Sebut saja peristiwa Wamena dan Jayapura, sudah berapa luka yang tercipta karena pergolakan yang terjadi di sana? Pergolakan yang awalnya dipicu oleh isu rasial yang tidak pernah terpuji keberadaannya. Sepertinya kalimat 'Saya Papua, saya Indonesia' hanya menjadi slogan semata, karena salah satu tuntutannya yang berbunyi stop pendekatan militeristik ke papua seperti tak pernah didengarkan, akhirnya berpuluh-puluh nyawa melayang.

Mahasiswa akhirnya unjuk gigi, dengan seruan serentak, mereka mengangkat isu-isu yang menurut mereka patut untuk diperjuangkan. Batalkan RUU bermasalah, kriminalisasi petani, HAM, Karhutla, dan isu-isu pendidikan lainnya.

Semarang, kotaku saat menempuh pendidikan saat ini, bisa dibilang kota yang beruntung. Walaupun unjuk rasa diwarnai dengan perobohan pagar di kantor Gubernur, namun pada akhirnya Gubernur itulah yang maju sendiri, naik di panggung yang telah disediakan oleh mahasiswa, melakukan sedikit orasi untuk mencairkan suasana, lalu menandatangani surat yang berisi tuntutan-tuntutan mahasiswa untuk kemudian harus ia sampaikan ke Senayan.

Namun di lain sisi, banyak aksi-aksi di daerah lain yang harus berhadapan dengan water cannon atau tembakan gas air mata. Bahkan badan salah satu mahasiswa di Kendari harus tertembus selongsong peluru yang ditembakkan tepat ke dadanya.

Melihat beberapa peristiwa belakangan ini menimbulkan tanya di kepala, ada apa dengan Indonesia ini sebenarnya? Ada rasa iba tiap kali tersiar berita tentang jatuhnya korban. Marah, karena bingung bagaimana harus bersikap. Sekali turun ke jalan, bersama kawan-kawan mahasiswa lain nampaknya belum menjawab pertanyaan di awal paragraf tadi. Ada rongga di kepala yang tak terisi, rongga yang mengisyaratkan penyesalan, bahwa hanya dengan tulisan aku bisa menyokong pilar-pilar perjuangan, sembari berharap, kejahatan ini tak terulang lagi, apapun bentuknya.


Semarang, 24 September 2019

No comments:

Post a Comment