Muara


Sendiri menjadi hal wajar baginya
Seolah ia akan baik-baik saja
Seonggok jiwa yang berlumur luka
Bersembunyi dibalik hingarnya mata lensa.

Teduh pandang matanya
Merasuki jiwa para pemuja
Berharap luluh ia untuknya
Namun,
Jangan berharap itu nyata.

Sepi bukan alasan tuk membuka lagi
Sesuatu yang menunggu tuk diakhiri
Segenap teguh hati nurani
Tak kunjung dapat memperkuat janji.

Dalam beberapa hari
Kudengar orang lelah mencari
Asumsi yang terkesan tak pasti
Beruntung, ia masih punya satu seloki.

Ia tenggak dalam diam
Tanpa ada raut muram
Berteman malam
Yang berlukis langit masam.

Sehat selalu, pintaku.
Raga itu sedang dipanggilkan.
Esok petang,
Mungkin ia datang.
Tuk berenang berdua,
Di muara yang sama.

—Ranggahaka
Yogyakarta, 16 Januari 2019

No comments:

Post a Comment