Pict by: pinterest
Pertama-tama mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi persetan dengan itu semua, aku hanya ingin menumpahkan rasa lewat susunan huruf yang ada di layar hp, tentang series netflix yang pertama kali kutonton, Stranger Things. Serial film yang berhasil membuatku menahan kantuk untuk menonton, lalu menulis tulisan ini.
Film ini terdiri dari 3 season, di mana setiap season mempunyai 8-9 episode. Film ini diawali dengan empat sekawan —bisa dibilang anak kecil/bocah— yang sedang bermain permainan papan, entah apa itu aku juga kurang tahu, satu-satunya yang kuingat dari permainan tersebut adalah monster bernama Demogorgon. Michael Wheeler, Will Byers, Dustin Henderson, dan Lucas Sinclair adalah nama dari keempat bocah tersebut.
Film ini berlatar tempat di kota fiksi bernama Hawkins, Indiana, USA. Film ini juga mengambil latar waktu sekitar tahun 1980an, mengangkat tema pertemanan, drama, sci-fi, supranatural, dan horror (maybe). Pada awalnya, film ini bercerita tentang hilangnya Will Byers yang sedikit janggal menurut Ibunya, Joyce Byers (karakter favorit nih). Joyce lalu menghubungi kepolisian setempat, di mana Kepala Polisi atau Chief di Kota Hawkins tersebut bernama Jim Hopper, pria besar yang sedikit tempramental. Tokoh-tokoh ini berusaha mengungkap kejanggalan yang terjadi, apalagi setelah mereka bertemu Eleven, sang gadis dengan gaya rambut skinhead (pada awalnya :p) dan mempunyai kekuatan mengendalikan barang di sekitar menggunakan pikirannya.
Setelah ditelusuri, mereka mendapat petunjuk bahwa yang menculik Will adalah makhluk dari dunia paralel (Demogorgon) yang masuk ke dunia setelah gerbang antar dimensi itu dibuka oleh Eleven. Eleven ini adalah gadis belia yang menjadi bahan percobaan oleh Dr. Brenner, pemilik Laboratorium Hawkins yang sebenarnya ilegal. Singkat cerita Demogorgon dapat dikalahkan oleh Eleven dengan kekuatannya, dan Will berhasil selamat. Mungkin segitu dulu sinopsisnya.
Di luar itu semua, aku merasa kagum dengan cara film ini mengembangkan karakter pada tiap seasonnya. Ada orang tua dari masing-masing bocah tentunya, ada juga Jonathan (Kakak Will), Nancy (Kakak Mike), Steve Harrington, lalu ada teman baru Maxine Mayfield, beserta Kakak tirinya Billy Hargrove, dan tak lupa Bob Newby.
Film ini berhasil menyeretku ke dunia mereka, tentang pentingnya tali persaudaraan, tentang cinta, tentang tenggang rasa, juga tentang mengikhlaskan. Empat sekawan pada akhirnya menjadi enam, karena pasukan mereka bertambah dua yaitu El (Eleven) dan Max (Maxine), dua gadis yang melengkapi tim tersebut. Melihat anak-anak tumbuh remaja memang selalu penuh kejutan, setidaknya itu yang aku dapat dari film ini. Lalu perihal Steve Harrington, Jonathan Byers, dan Nancy Wheeler. Dari mereka aku belajar sesuatu yang harus diperjuangkan selama itu masih layak diperjuangkan, dan ada sesuatu yang harus diikhlaskan jika memang seharusnya diikhlaskan.
Pict by: pinterest
Satu yang sangat menarik perhatian adalah, Joyce Byers. Seorang single mom dan kekasih yang menakjubkan. Seorang yang meledak-ledak, optimis, dan sedikit cerewet, pada sesuatu yang menurutnya layak untuk dibuat demikian. Namun di film ini, nasib tak berpihak padanya. Tiga kali ia dipatahkan, tiga kali juga ia bangkit dengan kedua kakinya sendiri. Memendam apa yang tak boleh dibongkar oleh orang lain, namun tetap berusaha kuat dengan memeluk hampa udara yang ada disekelilingnya.
Joyce Byers adalah karakter yang menakjubkan. Tak hentinya aku berkata demikian karena memang seperti itu adanya. Namun pada akhirnya ia tetap harus menelan pil pahit itu, pil yang tak akan membuatnya sembuh apabila ia tetap memegang erat apa yang harusnya dilepaskan, pil yang membuatnya sadar bahwa ada hidup yang masih harus berjalan, dan pil yang kelak membuat ia tegar, karena tahu, ia tidak sendirian.
Joyce Byers, you can be heroes, although just for one day. —David Bowie
Wonogiri, 29 April 2020



No comments:
Post a Comment