Seorang pria paruh baya terbaring di sebuah kasur usang miliknya, entah berapa lama sudah ia ditemani seonggok busa yang sudah mulai letoi termakan usia, kehilangan idealisme masa mudanya sebagai busa kuat nan kokoh.
Tatapannya tertuju pada langit-langit kamarnya, memandang sisi tergelap bagian atas ruangan yang disinari lampu LED 14 Watt, karena jika ia memandang sisi paling terang, mungkin ia hanya akan merusak matanya. Di luar, orkestra alam sepertinya sedang melakukan soundcheck, sebelum pertunjukan sesungguhnya akan tersaji saat mentari perlahan menyingsing dari ufuk timur.
Pria itu menyambut orkestra tersebut dengan tetap memandang eternit rumahnya, entah apa yang sedang berkecamuk di alam pikirnya pagi ini, namun dari gelagatnya, sepertinya ia sedang dilanda problema.
Pria ini tak mudah ditebak, kadang ia riang dalam balutan terang, kadang ia diam dalam gulita malam. Matanya mengerjap tiap tiga sampai lima detik sekali, namun terkadang ia memejamkannya lebih lama sembari mengambil napas, lalu mengembuskan napas yang ia ambil bersamaan dengan ia membuka kembali matanya.
Ya, mungkin ia terlilit hutang atau sejenisnya. Bisa jadi. Tapi, bukankah itu hanya anggapan? Orang-orang lebih mudah beropini daripada menghantam langsung target yang mereka incar. Mereka membiarkan pikiran mereka merunut dengan liar apa yang mereka lihat dan dengar dari kejauhan ketimbang melakukan hal yang sama namun secara langsung pada objek penelitiannya.
Mungkin itu yang sedang ia lakukan, pria malang dengan pikiran segudang. Menumpuk, tanpa takut itu akan membuatnya terpuruk. Dari ventilasi rumah, nampak sebersit sinar mulai mewarnai tembok kamar rumahnya, pertanda hari akan dimulai sebentar lagi. Mulai terdengar pula hiruk pikuk dari arah depan, yang mengisyaratkan aktivitas rutin pagi sudah mulai dikerjakan, disambut orkestra yang kini telah memulai pertunjukannya.
Sang pria mengintip dari balik ventilasi, memblokade sejenak sinar mentari yang sedang mewarnai. Ia mengercitkan matanya sejenak, lalu mengembuskan napas, seperti tidak puas dengan apa yang ada. Dengan demikian ia memutuskan untuk mematikan lampu kamarnya, lalu melompat ke kasur seperti perenang yang baru saja mendengar peluit tanda dimulainya perlombaan, lalu berusaha menyelam lewat mimpinya, sembari berharap dapat bertemu ia di sana.
Wonogiri, 3 Mei 2020

No comments:
Post a Comment