The Adams

Source: twitter.com/theadamsband

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau physical distancing yang digadang-gadang bisa paling tidak memperlambat penyebaran virus Covid-19 di Indonesia, nyatanya belum begitu mujarab. Antara kebijakan yang berubah-ubah atau masyarakat yang terlalu sukar diatur ditengarai membuat penyebaran virus ini semakin masif. Saat sedang membaca berita tentang Covid-19 ini, ada notifikasi masuk ke ponsel saya, notifikasi tersebut memberi tahu tentang konser Synchronize Fest yang mempertontonkan The Adams sebagai bintang tamunya telah dirilis di youtube. Kebetulan sekali, saya mulai suntuk dengan adanya peraturan PSBB ini. Tahu saya sedang suntuk, semesta nampaknya ingin menghilangkan kesuntukan saya dengan menyuguhkan satu tontonan yang menarik.

Belum terlalu lama sebenarnya saya mengikuti The Adams, baru dua atau tiga tahun belakangan, itupun karena sebuah wawancara di youtube yang sedang membedah skena musik jakarta pada waktu itu. Ada nama-nama seperti The Upstairs, White Shoes, Goodnight Electric, dan tentu saja The Adams. Syair 'Hanya Kau' menjadi lagu penutup pada sesi wawancara tersebut, dan saat itu pula telinga saya seperti ingin mendengarkan lagu tersebut secara utuh. Setelah mencari tembang tersebut pada satu layanan streaming musik digital, telinga saya sepertinya klop dengan musik yang disuguhkan The Adams ini, saya lalu mengulik band ini dan mendapati banyak lagu yang akhirnya saya sukai. Seperti Selamat Pagi Juwita, Waiting, Glorious Time, dan masih banyak lagi. Saat itu, The Adams baru akan merilis album ketiganya yang mereka beri nama 'Agterplaas' yang memiliki arti Teras Belakang.

Saya pun ikut penasaran perihal album baru dari band yang sedang saya ulik ini, dan saya baru tahu, untuk melahirkan album ke tiga ini, mereka membutuhkan waktu kurang lebih 13 tahun lamanya. Apakah waktu 13 tahun tersebut bisa membuat The Adams menelurkan album yang ciamik tanpa menanggalkan ciri khas mereka?

Waktu yang ditunggu tiba, saya pun langsung mendengarkan full album mereka melalui layanan streaming musik digital, dan dari situ, saya menarik kesimpulan bahwa waktu 13 tahun yang dibutuhkan tadi berhasil membuahkan suatu mahakarya berupa 11 lagu yang memanjakan telinga. Ciri khas yang tidak hilang ditambah materi yang tidak sama dari album-album sebelumnya menjadikan album ini layak menyandang predikat juara. Mulai saat itu, saya resmi menjadi penggemar The Adams, walaupun sudah agak terlambat mengetahui adanya band ini, namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Band yang kini beranggotakan Ario Hendrawan, Saleh Husein, Pandu Fathoni, Ghina Salsabilla, dan Gigih Suryo Prayogo ini selalu saya ikuti perkembangannya. Karena belum mempunyai kesempatan untuk bersua secara langsung dalam suatu konser, melihat pertunjukan mereka di youtube atau instagram sudah membuat saya bahagia. Saya lalu ingat kata-kata dari Ario di sebuah mini dokumenter dari SuperMusic, The Adams tidak akan pernah bubar. Pergantian mungkin ada, tambah keluarga, sahut Ale, nama sapaan dari Saleh Husein.

Bagaimanapun kedepannya nanti, terima kasih telah membuat musik yang menemani saya tumbuh, dan seperti kata David Tarigan, lagu kalian kelak mungkin akan menjadi salah satu lagu yang time less. Apakah benar begitu? Kita lihat saja nanti. Namun sekali lagi, terima kasih telah menghasilkan karya-karya indah, The Adams.

Source: youtube.com/supermusicid


Wonogiri, 24 Mei 2020

No comments:

Post a Comment