Efek Rumah Kaca

Source: dafont.com






Saat itu pada penghujung 2015, saya dan saudara saya, Mas Dheni, sedang menikmati sore di teras rumah. Sedikit mendung kala itu. Saat tiba-tiba, telinga saya mendengar alunan nada yang membuat saya bertanya-tanya.

"Lagu siapa ini, Mas?" Tanya saya.

"Efek Rumah Kaca." Jawab dia singkat.

Saya sedikit mengernyitkan dahi, nama yang aneh untuk sebuah band dengan musik seperti ini. Pemutar musik yang kala itu merupakan HP jadul milik Mas Dheni lalu lompat ke lagu berikutnya.

"Ini masih band yang sama?" Tanya saya lagi
"Iya." Jawabnya

Merasa penasaran dengan lagu yang saya dengar barusan, Mas Dheni lalu memberitahu dua judul lagu yang baru saja kami dengarkan, dua tembang tersebut berjudul "Desember" dan "Bukan Lawan Jenis".

Dari Efek Rumah Kaca (ERK) ini, saya pertama kali mendengar kata indie, yang baru saya tahu belakangan ini bahwa indie bukanlah sebuah genre.

Kata indie atau independen itu memiliki arti sendiri atau bebas. Indie adalah ketika seorang penyanyi memilih untuk berkarya dengan bebas tanpa adanya major label yang menaungi. Jadi, seorang musisi bisa dengan bebas menulis lagu, memproduksi, sampai mendistribusikannya tanpa ada aturan-aturan mengikat yang biasanya ada pada label-label besar.

Dari situ, saya mulai tertarik untuk mengulik lebih dalam tentang Efek Rumah Kaca ini. Saya mendengarkan semua album yang mereka punya, saat itu album yang ada masih "Efek Rumah Kaca" dan "Kamar Gelap", sebelum beberapa saat setelah itu, "Sinestesia" lahir.

Efek Rumah Kaca adalah grup musik indie alternatif yang lagu-lagunya banyak memotret keadaan sosial-politik di Indonesia. ERK saat ini beranggotakan Cholil Mahmud, Poppie Airil dan Akbar Bagus Sudibyo.

Pada waktu itu, Efek Rumah Kaca merupakan band yang jarang melakukan konser, salah satunya dikarenakan sang vokalis, Cholil Mahmud sedang pindah domisili sementara ke New York untuk kepentingan pendidikan.

Saking jarangnya konser, banyak yang tidak tahu bahwa Cholil sempat keluar dari ERK pada awal 2017, penyebabnya adalah polemik internal. Namun, saat polemik tersebut berhasil diselesaikan, beberapa bulan kemudian Cholil kembali lagi menjadi ujung tombak Efek Rumah Kaca.

Saya yang dari 2015 mulai memperhatikan ERK, baru berkesempatan melihat mereka manggung pertama kali pada tahun 2018. Tiga tahun waktu yang saya butuhkan untuk akhirnya bisa melihat aksi mereka di depan mata kepala saya sendiri.

Saat itu mereka manggung di Yogyakarta. Penonton di sana waktu itu dibuat terbatas, kurang lebih 150-200 orang saja. Karena hal itu, menurut saya, malam itu suasana terasa sangat intim.

Saya pikir ERK saat itu cerdik mempermainkan mood penonton. Memainkan lagu santai di awal, lalu saat mendekati penghujung acara, tensi sengaja dibuat naik. Saya masih ingat, lagu terakhir yang dibawakan adalah "Cinta Melulu", dan benar saja, penonton meresponnya dengan bernyanyi sembari berdesakan menyesuaikan irama lagu.

Melihat situasi sedang memenas, Poppie Airil sang bassis memanfaatkannya dengan melakukan Crowd Surfing. Penonton pun menyambutnya dengan tangan terbuka, lalu beberapa saat kemudian Poppie sudah berenang di kerumunan sambil tetap berusaha memainkan bass yang ia pegang tetap pada temponya. Tak lama setelah itu, genjrengan gitar terakhir Cholil menutup perjumpaan kami pada malam itu, konser pun berakhir. Malam yang menakjubkan!

Setelah konser selesai, saya sempat mencari toilet untuk membuang apa yang seharusnya dibuang. Keluar dari toilet, saya melihat antrian panjang menuju ke lantai atas, tempat backstage ERK. Saya yang berpikir pasti ini sejenis jumpa fans langsung ikut mengantre.

Penonton dibatasi tiap dua orang saja yang boleh naik secara bergantian. Selang beberapa saat, giliran saya masuk. Setelah melewati tangga dan sedikit lorong, saya lalu membuka pintu yang ternyata adalah ruang backstage.

Di depan saya terlihat Cholil, Akbar, dan Poppie sudah berdiri. Saya pun langsung mendekati mereka untuk bersalaman dan sedikit berbincang. Humble sekali orang-orang ini. Selesai bersalaman, saya lalu meminta foto, dan dengan senang hati mereka mengiyakan. Saya seperti orang paling bahagia malam itu. Akhir kata, terima kasih, Efek Rumah Kaca.



Wonogiri, 3 Oktober 2020

No comments:

Post a Comment