Jaket yang sudah sedikit lusuh ini kulipat perlahan, lalu kuletakkan di samping kepala sebagai satu-satunya teman tidur. Salah satu barang pemberianmu ini tak pernah absen menemaniku terlelap meraih mimpi yang penuh harap. Tanpa bantal, tanpa guling. Hanya beralas sepetak kasur kapuk yang mulai termakan usia.
Di tanah rantau yang terpaut jauh dari rumah, terkadang pulang adalah satu-satunya harapan yang menunggu untuk direalisasikan. Tempat yang asing, bahasa yang asing, juga suasananya. Dipaksa adaptasi atau mati, begitu ibaratnya.
Berbekal pengalaman suka naik gunung, mungkin sedikit membantu menjadi seseorang yang adaptif. Namun di lain sisi, ternyata masih banyak variabel yang luput dari perkiraan, salah satunya bahasa.
Pada salah satu daerah di Kalimantan Selatan, bahasa menjadi salah satu kendala selama aku bekerja di sini. Oh iya, di sini aku bekerja di salah satu proyek yang mengharuskanku untuk banyak berinteraksi dengan warga lokal. Pekerjaan pertama, pengalaman pertama. Sedikit sulit memang, namun harus mencoba terbiasa.
Masyarakat di sini paham apa yang aku katakan, namun terkadang mereka membalas dengan bahasa lokal yang kurang aku mengerti. Pada akhirnya hanya kata iya yang terlontar dari mulut ini.
Pengalaman pertama bekerja di sini adalah perpaduan dari perasaan excited dan kepala yang ingin meletus. Otak ini dipaksa berputar-putar seperti wahana 'tong setan' selama hampir 24 jam sehari.
Namun sepertinya, perasaan senang akan hal baru sedikit mengobati pikiran yang sedang berselimut taifun ini. Hari-hari awalku disibukkan dengan koordinasi sana-sini. Beruntungnya, masih ada banyak waktu luang untuk sekadar membiasakan diri.
Tapi entah mengapa, selama beberapa hari di sini banyak kesialan yang datang menghampiri. Kartu ATM yang tertelan, motor mogok, ban bocor, dan peristiwa-peristiwa menyedihkan lainnya.
Ada segelintir orang yang mengatakan, itu sambutan bagi para pendatang. Lalu aku berpikir, sepertinya kalau aku sedang bertamu ke rumah orang, minuman dan makanan yang biasa disajikan, bukan sumpah serapah yang membuat diri resah. Namun setelah itu, otakku berusaha mencernanya dari sisi positif. Jika sialnya datang di awal, semoga keberuntungan senantiasa hadir pada akhirnya. Amin.
Tulisan ini dibuat sebagai catatan perjalanan. Bahwa hidup tidak melulu soal menggerutu, namun juga menikmati. Pahit manis terkadang hanya persepsi yang diromantisasi. Jangan berlarut-larut.
Kalau boleh mengutip kata-kata Dea Anugrah, "Hidup begitu indah, dan hanya itu yang kita punya."
Tetap gapai cahaya, karena percayalah, hadirnya akan terasa lebih terang saat semua sedang gelap.
Tapin, 7 November 2020

No comments:
Post a Comment