Di ujung tahun 2020 ini, lingkungan sekitarku sedang diterpa segelintir kabar duka. Kabar yang mungkin tak pernah diharapkan oleh sebagian banyak orang, karena merasa tak siap dan takkan pernah siap untuk kehilangan orang-orang yang punya hubungan dengannya, pun orang yang sangat dicintainya.
Hal yang sangat wajar tentunya, karena saat hal itu terjadi, otak seperti otomatis memutar masa-masa dulu mereka pernah bersama, kemudian amigdala akan mencerna masa-masa itu menjadi kesedihan, yang diejawantahkan menjadi butir-butir air yang mengalir bersama lewat mata. Turun ke pipi, lalu jatuh ke tanah, untuk akhirnya hilang menguap dan menyatu bersama udara, terbang ke sana kemari hingga entah kemana.
Saat hal itu terjadi, banyak dari kita yang bertanya. Mengapa? Mengapa harus sekarang, mengapa tidak nanti saja, mengapa aku tak sempat menghabiskan banyak waktu dengannya, dan mengapa-mengapa lain sebagai bentuk penyesalan akan hal-hal yang terlewatkan.
Kepergian, kehilangan, memang hampir selalu dihiasi dengan air mata. Apalagi di tahun ini, banyak orang yang pergi akibat satu pageblug atau wabah bernama Covid-19. Virus yang ditengarai berasal dari Wuhan, Tiongkok ini berhasil membuat satu dunia geger atas banyaknya korban yang berjatuhan.
Tindakan preventif seperti memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak sebenarnya sudah dilakukan untuk memutus rantai penularan virus ini, namun hal itu hanya bagi orang yang sadar dan percaya. Karena di luar sana, banyak yang menganggap virus ini hanya konspirasi belaka.
Aku tak mau membahas lebih lanjut mengenai teori-teori yang ada, biarkan mereka yang capai berdebat tentangnya. namun satu yang jelas, ribuan atau mungkin jutaan tenaga medis sedang mempertaruhkan nyawanya demi orang-orang, tanpa memandang orang yang sedang mereka rawat ini percaya atau tidak akan adanya virus ini, dan mirisnya, banyak tenaga medis gugur, demi tugas mulianya tersebut. Hormatku untuk pahlawan yang bersenjatakan jarum suntik ini.
Aku jadi ingat, bulan Desember tahun kemarin, banyak mimpi dan rencana yang lahir, dan berharap jadi nyata di tahun 2020 ini. Bulan Januari sampai Februari, bukit mimpi itu ia daki pelan-pelan. Namun baru di awal jalan, bukit tersebut dilongsorkan oleh wabah yang bernama Virus Corona ini. Banyak yang selamat, namun tak sedikit juga yang mimpinya terkubur bersama longsoran yang runtuh secara tiba-tiba ini.
Kini tahun 2020 sudah sampai di penghujung. Sekarang mimpi yang ada sepertinya tak akan muluk-muluk. Aku dan mungkin kebanyakan orang hanya mempunyai mimpi supaya longsoran bernama Corona atau Covid-19 ini bisa segera dibersihkan. Lalu kemudian, perlahan membuat jalan baru untuk menghindari longsoran tersebut, untuk bisa kembali berjalan, mencapai puncak bukit mimpi yang diidam-idamkan.
Ya, semoga saja.
Kandangan, 21 Desember 2020

No comments:
Post a Comment