Sampai Nanti











Akhir-akhir ini, entah mengapa aku tak terlalu bersemangat untuk membuat tulisan. Hal-hal seperti kesibukan baru, mungkin bisa menjadi satu alasan klise untuk membela kemalasan tadi. Namun lebih dari itu, mungkin saat ini sedang tidak ada saja pertentangan di kepala. Bukan berarti tidak ada satupun problema yang menimpa. Hanya lebih ke tidak terlalu memperdulikan, kembali lagi ke poin kesibukan baru tadi.

Segala pertentangan yang ada di kepala dipaksa untuk bersembunyi di urat-urat kecil  yang ada pada satu otak besar. Lantas mengapa sekarang bisa kembali menulis? Entahlah. Tulisan ini dibuat pada pagi hari di salah satu sudut Kota Kandangan, Kalimantan Selatan.

Pagi ini, langit menyirami tanah yang gersang dengan intensitas air yang teramat deras. Karena sedang tidak ada kegiatan, sekaligus menunggu hujan reda, maka tulisan ini tercipta. Aku berpikir, daripada menyesali karena aktivitas hari ini jadi terkendala, lebih baik mencoba adaptasi, memanfaatkan waktu sekadar menumpahkan isi kepala yang sudah terlalu lama mengendap, menjadi jamur-jamur yang mana aku takut jamur-jamur tersebut hanya akan menjadi racun yang cukup membuat seseorang menjadi gila.

Di depan teras sana, nampak dua burung gereja bersandar pada satu batang kayu tanpa daun. Mengapa ia tidak mencari pohon yang rimbun saja untuk sekadar berteduh dari hujan pagi ini? Entahlah. Hewan-hewan itu hanya memenuhi instingnya untuk bisa bergerak ke sana kemari.

Pagi ini, lagu Adhitia Sofyan yang berjudul Sampai Nanti menghiasi telinga, berpadu dengan percikan air yang menghantam tanah, juga atap rumah. Lagu itu dipilih oleh sistem shuffle yang ada pada salah satu pemutar musik berbayar yang ada di HP pribadiku.

Aku lalu berpikir, 5 bulan sudah aku meninggalkan rumah. Memang bukan waktu yang terlalu lama, hanya di bulan ke-5 ini, sudah ada keinginan-keinginan untuk bisa bertemu kembali di lingkungan lama. Entah itu lingkungan rumah, maupun lingkungan kuliah.

Sebentar lagi. Tunggu sebentar lagi. Secepatnya pula aku ingin kembali.

Yah, bagi yang membaca tulisan ini, terima kasih telah menemaniku untuk menghabiskan pagi yang sepi ini, walaupun entah kalian membacanya pada siang atau malam nanti, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Sampai Nanti.


Kandangan, 3 Februari 2021

No comments:

Post a Comment