Sandiwara

Terkadang aku memaknai sebuah pesta dari sudut gelap, melihat hingar bingar yang hanya sekejap itu dengan sedikit melangkahkan kaki ke belakang. Mengambil kursi dan duduk bersamamu yang sama-sama kurang bisa lebur dalam euforia yang teramat singkat itu. Melihat tingkah konyol para kolega yang dibutakan oleh efek alkohol yang sudah mulai menjamah pikiran mereka. Sambil berbisik tentang sesuatu yang tak diketahui oleh dunia fana.

Suara-suara itu mendadak hening bagai suasana telaga di sebuah pedesaan yang jauh dari kota, semua karena asyiknya obrolan yang mulai membabi-buta. Senyum hingga tawa tercipta, tanpa hadirnya ragu semesta. Mengalir deras seperti air terjun yang menghujam bumi kita. Entah apa namanya, aku tak mau ambil pusing dibuatnya. Malam ini hanya ingin menikmati apa yang ada, sembari menengguk air dalam gelas yang cemburu karena tidak diperhatikan pemiliknya. Tak lupa gelas saling didentingkan, agar nuansanya mirip suasana di film-film mafia italia.

Di sela-sela obrolan, kulihat sorot mata yang redup, namun dibuat seolah-olah tak ada apa-apa, yang aku lupa, kau sangat pandai bersandiwara. Aku meraih satu tangan yang diletakkan di meja. Ia terkejut, tak siap dengan apa yang aku lakukan. Perlahan, aku menatap sepasang bola mata indahnya, berusaha masuk ke isi pikirannya, namun tak kutemui apa-apa di sana. Aku pun sontak bertanya, "ada apa?". Ia lalu menundukkan pandangannya, dari temaram ruangan, kulihat sekilas bibirnya bergetar, dan air matanya perlahan keluar.

Karena ruangan gelap, aku ingin memastikan tentang apa yang baru saja aku lihat. Perlahan aku mengangkat kepalanya, kami berpandangan sebentar, kemudian ia lepas perlahan satu tanganku yang menopang wajahnya, ia melepasnya dengan sangat lembut. Ia seka air matanya sejenak, lalu menatapku kembali. Ia tersenyum, bagai tidak terjadi apa-apa. Aku membalas senyumannya. Dan kuakui sekali lagi, ia memang pandai bersandiwara.

Wonogiri, 31 Januari 2022

No comments:

Post a Comment