Cure



Hari ini entah kenapa suasana hati seperti sedang dipermainkan. Dibuat sedih dan marah, lalu dihibur dan kembali ceria, untuk kemudian dibanting lagi sedalam-dalamnya. Sebenarnya tidak susah membuat diri kembali pada mood yang seharusnya. Sekadar melihat teman yang sedang diselimuti oleh kebahagiaan, senangnya bisa turut menular, dan memadamkan bara yang sedang menyala-nyala di dalam jiwa.

Tapi entah mengapa, di saat hati baru saja me-reset suasananya, ada hal lain lagi yang bisa membuat geleng-geleng kepala. Sisa bara yang tadi masih menyala, diberi dedaunan gersang yang kembali menyulut api di dalam sana.

"Hahhh!"

Teriakku yang masih terhalang kaca helm. Karena seperti biasa, sepeda motor menjadi teman setia untuk menyegarkan kembali suasana yang ada. Perlu diketahui, hal ini merupakan privilage orang miskin kalau kata seorang afiliator judi berkedok investasi yang belum lama ini baru saja ditangkap polisi, karena kalau aku orang kaya, mungkin aku sudah akan ada di sebuah mobil, yang lebih kedap suara tentunya. Helm tidak kedap suara, teriakanku mungkin akan didengar orang di pinggir jalan, yang mungkin juga berkata di dalam hatinya

"Dasar bocah prik!"

Mungkin memang terkadang kita sendiri yang terlalu meromantisasi suasana, sehingga satu hal yang mungkin tampak biasa saja, jadi menyakitkan karena ekspektasi yang terlalu tinggi menjulang. Entah kali ini termasuk yang mana, yang jelas salah satu terapi yang membantuku berdamai dengan keadaan adalah menulis, selain naik motor tentunya.

Dengan tulisan, entah ada atau tidak yang membacanya, setidaknya aku merasa didengarkan. Mungkin ia tak bisa memberi saran atau solusi, namun terkadang bukan itu yang kita butuhkan, benar? Yang dibutuhkan adalah telinga dan penyangga. Sebagai teman bercerita sembari menyandarkan harapan yang terkadang berlebihan.

Sebenarnya, aku tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan, amarah atau dendam. Namun, terkadang bahan bakar terbaik untuk menulis adalah hal-hal semacam itu. Jadi, ya nikmati saja duka yang ada. Siapa tahu, kumpulan tulisan ini nanti bisa diterbitkan menjadi sejilid buku, amin. Ada yang baca ya bersyukur, kalau tidak, ya sudah. Tapi lebih bagus kalau ada yang baca, sih. Royalti, bos. Paham idealis sementara tidak diterima di sini, haha.

Tapi serius, menulis bisa menjadi obat saat tak ada orang yang menurutmu pas untuk diajak bercerita pada saat itu. Contohnya sekarang, hari sabtu pukul 1:26 dini hari. Siapa yang sudi mendengarkan keluh kesah manusia dengan masalah sepele seperti ini? Memang terkadang ada, namun aku tak mau merepotkan, alias memang sedang tidak ada yang mau mendengarkan saja.

Alangkah lebih baik menghabiskan akhir minggu dengan hal yang lebih bermanfaat, seperti tidur contohnya? Atau pergi party, sebagai kegiatan penutup sebelum memasuki bulan ramadan. Semua orang punya pilihan, dan aku memilih untuk menulis saja.

Baru menulis segini saja suasana hati sudah lumayan berubah, ajaib memang. Namun, seiring dengan berubahnya suasana hati, datang pula rasa kantuk yang menggelayuti mata. Ah, ya sudah segini saja tulisan kali ini, ya. Terima kasih sudah menjadi teman yang mengobati, kapanpun kamu membaca tulisan ini.


Wonogiri, 2 April 2022

No comments:

Post a Comment