Bicara keberuntungan, entah kenapa menurutku aku selalu diselimuti oleh keberuntungan, dari lahir sampai detik di mana aku sedang menulis tulisan ini. Meskipun bukan keberuntungan fantastis seperti Ghozali dengan NFT-nya, atau Rafathar yang terlahir dari bapak kaya raya.
Keberuntungan yang kupunya mayoritas sederhana. Lahir dari keluarga yang secara ekonomi cukup, secara mental aman, dan secara pengetahuan lumayan melimpah. Lingkungan yang adem ayem tanpa punya tetangga bermulut paprika, teman masa kecil yang –kala itu– tidak begitu bengal, dan juga hidup di desa yang bisa dibilang –dalam ukuran desa– sudah serba ada.
Lanjut ke masa sekolah, agak hilang mantra keberuntungan itu saat akan masuk SD favorit di Kota, ada syarat harus berumur tujuh tahun untuk bisa masuk ke SD tersebut, sedangkan aku baru akan menginjak umur tujuh satu bulan kemudian, alhasil tidak jadi masuk di sekolah favorit tersebut dan memutuskan untuk pindah di sekolah yang tidak begitu jauh dari sekolah favorit tadi, barangkali hanya berjarak 500 m. Mungkin keinginan bapak ibuku waktu itu supaya favoritnya sekolah tadi bisa nular ke sekolah yang dipilihnya kini. Di SD ini, aku belajar mandiri. Awal-awal kelas satu dan dua memang masih diantar jemput bapak, tapi mulai kelas tiga sudah memberanikan diri untuk naik mini bus sendiri.
Keberuntungan selanjutnya adalah saat masuk SMP, tapi kalau ini tidak untuk ditiru, ya. Untuk bahan pembelajaran saja. Saat itu masih terlalu polos juga. SMP yang aku tuju waktu itu merupakan SMP favorit, dan harus mengerjakan tes seleksi untuk bisa masuk ke dalam SMP tersebut. Aku masuk ruangan bersama temanku yang sudah kukenal semenjak bayi –ya, rumah kami sebelahan– bernama Nando.
Aku dan Nando duduk berturut-turut depan belakang. Dan kebetulan pengawas ujian kala itu adalah tetangga kami yang juga merupakan salah satu guru di SMP tersebut. Singkat cerita kami dibantu dengan cara soal yang diberi ke kami ditukar dengan soal yang sudah diberi jawaban oleh guru tetangga kami ini. Tidak semua, sih. Hanya pelajaran yang beliau ampu saja yang diberi jawaban. Alhasil saat pengumuman, kami masuk kelas unggulan di SMP tersebut. Sebenarnya, apabila tanpa adanya bantuan dari tetangga kami, kami masih bisa masuk SMP favorit itu, walaupun tidak masuk di kelas unggulan, pun tidak apa-apa. Dan benar saja, di kelas unggulan tersebut, kami selalu menjadi penghias lima besar, dari belakang.
Masuk SMA keberuntungan juga sempat hilang sejenak, namun tidak fatal. Salah satu milestone dalam hidupku adalah akhirnya aku berpisah dengan Nando yang sudah dari TK sampai SMP selalu sekelas denganku. Ia masuk SMA favorit karena memang mempunyai NEM yang lebih tinggi dariku. Ya sudah, toh memang itu mungkin salahku juga yang kurang giat belajar sebelum mengerjakan ujian. Oh iya, tidak seperti masuk SMP, masuk SMA tidak memerlukan tes, melainkan menggunakan nilai ujian nasional SMP.
Kehidupan SMA tergolong seru, pertama-tama karena rute bus dari rumah ke SMA yang agak susah akhirnya aku dibelikan motor seken untuk mempermudah mobilitas. Kebetulan aku masuk di jurusan IIS waktu itu atau Ilmu-Ilmu Sosial yang sebenarnya lebih dikenal dengan sebutan IPS. Jurusan yang sudah dicap bengal dari awal, yang selalu membuatku bertanya-tanya, karena apa? Apa karena kemampuan otak kami di bawah anak IPA lalu kami mendapat stigma begitu? Lagi pula, kemampuan otak seseorang tidak dinilai hanya dari satu kali ujian. Ya, ini bisa disebut pembelaan dari anak yang ingin masuk IPA tapi gagal, hahaha.
Namun percayalah, apapun jurusannya minumnya teh botol sosro. Ah, maaf. Maksudnya, apapun jurusannya, apabila memang kita punya tekad dan niat yang kuat, maka pasti ketemu jalannya. Kalau tetap tidak ada bagaimana? Usah khawatir, make your own way, bruh~
Wonogiri, 17 April 2022

No comments:
Post a Comment